Remove this ad

Lead

May 16 07 12:01 AM

Tags : :

Pada akhir Mei ini, ratusan ribu remaja Indonesia bakal antre di gerbang-gerbang perguruan tinggi untuk merebut tiket ke kampus. Pendidikan tinggi memang masih diyakini sebagai jalan tol meraih masa depan gemilang di pasar kerja Indonesia yang sempit. Hingga awal 2007, negeri kita memiliki 10,9 juta penganggur -- 20 persennya berijazah sarjana. Hasil riset pusat data dan analisa Tempo pada Januari di Jakarta dan sekitarnya mencatat ada 10 perguruan tinggi yang lulusannya dianggap favorit di pasar kerja. Hasil survey itu diluncurkan pekan lalu dalam buku Panduan Memilih Perguruan Tinggi 2007 meraih kerja sesuai program studi. Hasil laporan tersebut menemukan, diluar sepuluh Universitas tersebut ada sederet lembaga pendidikan lain yang alumninya juga menjadi "primadona". Kiatnya : Memilih bidang studi yang berpadan dengan kebutuhan pasar.

----



Mari bertandang ke dunia Yudhitya Dwi Ahadianto, seorang sarjana kimia lulusan Universitas Gadjah Mada. Dia mengisi setiap hati baru dengan dua kegiatan utama. Membaca iklan dan mengetik. Ya, mengetik surat lamaran kerja. Entah berapa rim kertas yang dia habiskan untuk mengetik, merevisi, mengetik lagi, surat-surat itu. Sejak lulus beberapa tahun lalu, dia sudah melayangkan lamaran ke seratus lebih perusahaan. Hasilnya, nihil. Padahal saya tak mau pilih-pilih kerja," ujarnya kepada Tempo.

Yudhit, 26 tahun, lulus dengan indeks prestasi di atas rata-rata 3,2 dari skala 4. Dia mengambil sejumlah kursus untuk mendongkrak nilai jual: komputer, bahasa Inggris, desain grafis. Tetap saja mentok. Terpaksalah dia berbaris dalam jaajran sarjana pengangguran. Hingga pertengahan Maret lalu, penganggur Indonesia mencapai angka 10,9 juta orang. Sekitar 11% lulusan S1. Ini adalah angka resmi dari Departemen Tenaga Kerja. Silakan mengira-ngira sendiri angka tidak resminya.

Formasi lowongan pekerjaan di Indonesia, yang mirip piramida, menyulitkan mereka. Semakin tinggi strata pendidikan pencari kerja, kian sedikit lowongan tersedia. Bidang-bidang tertentu seperti membutuhkan keahlian khusus. Buntutnya, banyak pencari kerja masuk ke bidang yang tak disukai.

Riset perusahaan penyedia informasi kerja JobsDB Indonesia pada 2006 menemukan setidaknya 50% pencari kerja salah jurusan. Sebagian besar llusan S-1 kini menempati pekerjaan teknis yang harusnya digarap oleh para lulusan diploma 3. "Karena desakan kondisi eknomi," Eddy S. Tjahja, Direktur JobsDB menjelaskan.

Potret kualitas tenaga kerja kian terang bergitu kita melihat hasil survei Daya Dimensi Indonesia pada 2006. Perusahaan konsultan tenaga kerja ini menyurvei 348 perusahaan dari 13 negara, termasuk Indonesia. Hasilnya, banyak manajer personalia mengeluhkan kualitas karyawan yang baru mereka rekrut. "Hampir 35% responden mengeluhkan keahlian, pengetahuan, dan pengalaman karyawan tak sesuai dengan standar kompetensi perusahaan," kata Dwiputri Adimuktini, Corporate Marketing Manager Daya Dimensi.

Untuk mendapatkan karyawan yang masih di bawah standar pun perusahaan harus bersaing satu sama lain. Dan setelah mereka masuk kerja, kata Meitriani Dian Utami, konsultan Daya Dimensi, "Perusahaan harus pandai-pandai memelihara karuawan agar mereka tak pindah kerja."

Kompetisi antarperusahaan dalam merekrut tenaga yang berkualitas memang amat ketat. Jumlah tenaga berlimpah, mutu minus. Alhasil, walau sudah bersaing keras, tetap saja perusahaan-perusahaan menurut survei Daya Dimensi, sulit mendapatkan calon pekerja yang siap pakai.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan alumni perguruan tinggi kita?

Pangkal soal adalah kurang cermatnya dunia pendidikan tinggi kurang membaca kebutuhan industri kerja. Padahal, sebagai penyuplai tenaga, universitas mestinya menyajikan kualitas lulusan yang siap diserap pasar. Sebaliknya, perguruan tinggi juga menganggap tak ada kejelasan parameter kebutuhan tenaga kerja dari dunia industri. Ini yang membuat orang seperti Yudhit masuk barisan penganggur.

Sebenarnya, ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk menyembatani kondisi ini. Sejumlah penyedia tenaga kerja yang ditemui Tempo, misalnya, mengaku masih memakai cara rasional dalam merekrut karyawan. Antara lain indeks prestasi yang masih dipandang sebagai unsur penting.. Setidaknya, untuk menyortir para kandidat pada tahap awal. "Begitu data masuk komputer, mereka yang tak sesuai dengan kualifikasi pasti langsung terpental," kata Malla Latif dari lembaga rekrutmen Advanced Amriel.

Reza mengutip penelitian yang dilakukan psikolog dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, David Cleeland, pada akhir 1970-an. Penelitian terhadap perusahaan-perusahaan di dunia itu membuktikan bahwa sukses seseorang tidak ditententukan kemampuan akademis (hard skill), tapi kemampuan mengelola diri sendiri dan orang lain (soft skill).

Sofft skill atau kecakapan emosional yang dibutuhkan, antara lain, kemampuan berkomunikasi, etos kerja, visi ke depan, bisa bekerja dalam tim, mudah beradaptasi, dan kemampuan mengelola diri. "Semua berkaitan dengan pengalaman dan sikap hidup yang tak bisa dibentuk dalam satu atau dua hari," kata Reza.

Sejumlah praktisi SDM mengaku mereka sudah mengubah pendekatan hard skill ketika menyeleksi pegawai. "Alasannya, lebih mudah melatih ketimbang mengubah karakter," ucap Reza. Toh, tetap saja sulit menjaring karyawan bermutu. Malla mencotohkan, banyak pencari kerja yang tak tahu apa sesungguhnya pakerjaan yang sedang dilamar. Mereka juga tak mampu mempresentasikan diri dan tak memperhatikan cara berpakaian.

Krisis kandidat yang cakao emosional ini terjadi di level staf maupun manajer. Mudah diduga, manajer yang punya performa bagus segera menjadi incaran para penyedia tenaga kerja. Praktek bajak-membajak kerap terjadi.

Tingginya permintaan pasar kerja terhadap mereka yang cakap itu membuat perburuan tenaga kerja kian gencar dilakukan. Terkadang, perusahaan atau lembaga rekrutmen sampai mengobok-obok pasar kerja di pelosok daerah. Bursa tenaga kerja daerah pun turut terangkat.

Mereka menelusuri berbagai kampus terutama ke area favorit spserti UI, ITB, UGM, IPB, uNAIR, ITS. UNDIP, UNPAD. Perguruan tinggi swasta tertentu juga masuk daftar perburuan, seperti Universitas Trisakti dan Universitas Atma Jaya. Di universitas-universitas inilah lembaga rekrutmen biasanya relatif tak kesulitan mencari tenaga kerja yang berkualitas.

Jajak pendapat PDAT tentang "Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi dari Sudut Pandang Dunia Kerja" yang digelar sepanjag 2006 - Januari 2007 itu juga menunjukkan hal sama. Lulusan 10 perguruan tinggi di atas lebih mudah beradaptasi, punya visi ke depan, dan dinilai berinteligensi tinggi.

Hasil survei sedikit banyak memang dipengaruhi lokasi responden. Para manajer personalia dan penyedia tenaga kerja dari 135 perusahaan di Jabodetabek menjadi narasumber survei. Kawasan ini sengaja dipilih karena memiliki konsentrasi lapangan kerja tertinggi di Indonesia.

Tapi hasil survei di atas bukanlah harga mati, tentu saja. Banyak perguruan tinggi lain yang terbukti sukses mencetak sarjana kampium di bidangnya. Universitas Bina Nusantara, Jakarta, mampu mencetak sarjana teknologi informasi yang laris manis. Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta, yang populer karena lulusan di bidang film dan penyiaran, sudah "diijon" sejak mereka masih kuliah.

Beberapa perguruan tinggi berupaya mendekatkan dirir dengan dunia kerja. Mereka mengevaluasi diri, menggelar riset pasar, dan memulai periode sibuk: pembenahan internal. Universitas Indonesia, misalnya, mengubah metode belajar mahasiswa dan menerapkan standardisasi kemampuan bahasa Inggris saat ujian masuk mahasiswa. Begitu pun dengan Institut Pertanaian Bogor, yang membentuk jaringan dengan dunia industri.

Pusat karier menjamur di berbagai universitas. Para pengusaha diundang ke kampus-kampus terbaik, berbicara tetang kompetensi dan kebutuhan tenaga kerja. Jurusan yang dikenal laris manis di pasaran diperkuat. Jalur mangang dengan sejumlah perusahaan industri dirintis. Begitu pesta wisuda selesai, para wisudawan itu pun siap dipinang pelbagai perusahaan.

Beberapa kampus seperti UI, ITB, UGM, dan ITS juga membangun konsorisum untuk kerja bareng dengan sejumlah perguruan tinggi di Asia. Tujuannya untuk mendapat pengakuan internasional." Kami tak mau kalah dengan lulusan dari luar negeri," ucap Usaman Chatib, Rektor UI.

Upaya itu bertuhuan agar mereka menang bersaing di tingkat global. Selama ini hanya empat perguruan tinggi di Indonesia yang masuk peringkat 500 Universitas terbaik yang dilansir oleh The Time pada November 2006. Itu pun di nomor buntu. UI (250), ITB (258), UGM (270), dan UNDIP (495).

Peringkat ini dibuat atas berbagai kriteria, antara lain mutu riset, kualitas pembelajaran, serta persentase mahasiswa dan dosen. Dan yang paling menentukkan adalah bagaimana lulusan itu terserap pasar kerja.

Pemeringkatan ini baru satu di antara sejumlah versi peringkat perguruan tinggi terbaik di dunia. Di versi lain, posisi Indonesia sama: jauh dari 50 bahkan 100 besar perguruan tinggi dunia. Kondisi ini menurut Dirjen Pendidikan Tinggi Satryo Soemantri, memperlihatkan Indonesia masih tertinggal jauh di dunia internasional. "Mungkin karena itu tak banyak lulusan Indonesia yang sukses bersaing secara global di dunia usaha" ujarnya.

Fakta ini diperjelas oleh hasil survei IMD-World Competitiveness Year Book, sebuah lembaga riset di Swiss, pada 2006. Survei itu antara lain menyebut bahwa soal kualitas dan produktivitas, tenaga kerja Indonesia berada di peringkat 59 dari 60 negara di dunia.

Sejumlah perguruan tinggi sebenarnya sudah memermak diri agar lulusan mereka bisa laku cepat di bursa kerja. Misalnya membuka program internasional, bekerja sama dengan perguruan tinggi terkemuka dari Amerika Serikat, hingga mengubah kurikulum. Toh hasilnya belum sebanding. "Karena yang diutamakan masih pembenahan hard skill. Soft skill-nya belum' kata Reza.

*****

Dunia Yudhitya adalah sebuah pertarungan keras dan panjang untuk menembus bursa kerja -- seperti halnya satu juta lebih sarjana Indoensia yang menganggur. Tapi sarjana kimia itu percaya, suatu hari ia akan menggengam pekerjaan juga, entah di perusahaan mana.

Dia berkaca pada kisah sukses seorang seniornya Peddy Adhayaksa.

Peddy, 40 tahun adalah eksekutif pertama dari Indonesia -- bahkan Asia -- yang dipercaya menjadi manajer keuanagan di perusahaan ponsel Sonny Ericson di kantor pusatnya, Muenchen, Jerman. Lulusan Fakultas Ekonomi UGM itu butuh waktu 15 tahun untuk mencapai posisi tersebut.

Dia memulai kariernya dari nol, melamar sana-sini sebagaimana Yudhit. Ia tak pernah berhenti memompa diri sebelum berhasil membuat lompatan-lompatan luar biasa dalam kariernya.

Yudhitya ingin meniru jejak Peddy.
Remove this ad
Remove this ad

#1 [url]

May 16 07 12:26 AM

METODOLOGI SURVEI

Survey dilakukan dengan cara mewawancarai responden secara langsung, dengan alat bantu pengumpulan data berupa daftar pertanyaan. Responden dipilih melalui quota sampling.

Waktu Survey
Desember 2006 - Januari 2007

Responden
135 orang, terdiri dari 80 pengguna tenaga kerja dan 55 perekrut.

Lokasi
Survei ini dilakukan di Jakarta, Jawa Barat (Bogor, Bekasi, dan Depok), Banten (Tanggerang). Karenanya besar kemungkinan ada bias Jawa-sentris--perguruan tinggi di luar Jawa yang masuk 20 besar lebih sedikit dari yang seharusnya. Namun, pengaruh bias ini diduga tidak bermakna, karena lapangan kerja terkonsentrasi di ketiga provinsi ini.

Bidang Kerja


Jabatan

#2 [url]

May 16 07 12:30 AM

Inilah duapuluh kampus terbaik di negeri ini menurut kalangan dunia kerja. Peringkat ini merupakan hasil survey Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT) sepanjang Desember 2006 - Januari 2007.

TOP 20

#3 [url]

May 16 07 12:53 AM

Karakter Juara

Dunia kerja memilih sepuluh kampus tersebut sebagai kampus terbaik karena lulusannya memiliki karakter juara. Berikut ini peta persepsi dunia kerja tentang karakter lulusan 10 perguruan tinggi tersebut.

Pekerja Super

Mengapa karakter juara penting dalam dunia kerja? Jawabannya sederhana: dunia kerja butuh pekerja super. Berikut ini pekerja super yang diinginkan responden Tempo (berdasarkan indeks) :

Mau bekerja keras
9,03%

Kepercayaan diri tinggi
8,75%

Mempunyai visi ke depan
8,37%

Bisa bekerja dalam tim
8,07%

Memiliki Perencanaan matang
7,91%

Mampu berpikir analitis
7,82%

Mudah Beradaptasi
7,12%

Mampu berkerja dalam tekanan
5,91%

Cakap berbahasa Inggris
5,27%

Mampu mengorganisasi pekerjaan
5,26%


Agar Lulus Bekualitas

Tekun belajar bukan satu-satunya cara untuk menjadi lulusan berkualitas. Anda perlu kegiatan tambahan. Inilah tips dari dunia kerja (berdasarkan indeks) :

Aktif Berorganisasi
20,32%

Mengasah bahasa Inggris
18,60%

Tekun Belajar
17,70%

Mengikuti perkembangan informasi
15,98%

Memiliki pergaulan luas
15,07%

Mempelajari aplikasi komputer
12,32%


Andakah yang dicari?
Beginilah cara dunia kerja menjaring pekerja. Mulanya surat lamaran calon pekerja disortir. Jika memenuhi syarat, calon pelamar menjalani aneka tes.

Prestasi
Indeks prestasi kumulatif yang menujukkan prestasi akademis -- menjadi pintu masuk pertama.

Indeks Prestasi Kumulatif
16,09%

Kemampuan berbahasa Inggris
14,08%

Kesesuaian program studi dengan posisi kerja
14,48%

Nama besar perguruan tinggi
13,84%

Pengalaman kerja/mangan
12,46%

Kemampuan aplikasi komputer
11,39%

Pengalaman Organisasi
10,55%

Rekomendasi
6,39%


Tes
Ada tiga jenis tes paling umum yang harus ditempuh pelamar kerja: wawancara, psikotes, dan kesehatan.

Wawancara
100%

Psikologi
84%

Kesehatani
68%

Kecakapan Komputer
56%

Kemampuan Bahasa Inggris
54%

Matematika
22%

Kemampuan bahasa Indonesia
12%

Lainnya
10%

#4 [url]

May 16 07 1:11 AM

TOP 10
Inilah Mereka, Terlaris...



UI Depok dan Salemba

#1
Universitas Indonesia

Pada kuartal ketiga tahun 2006, Times Higher Education Supplment (THES) dari Inggris menerbitkan laporan peringkat perguruan tinggi sedunia. Hasilnya, Universitas Indonesia berada di posisi 250 dari 520 perguruan tinggi terbaik sejagad.

Secara nasional, UI nomor wahid, THES menilai berdasarkan empat faktor, yaitu kualitas riset, terserapnya lulusan ke dunia kerja, prestasi internasional, serta kualitas lulusan pengajar. "Ini gambaran kualitas Universitas Indonesia dalam kacamata dunia," kata rektor UI Usman Chatib Warsa.

Kualitas lulusan Fakultas Ekonomi perguruan tinggi ini telah lama dikenal handal. Bahkan pemilkiran ekonomi negeri ini banyak dipengaruhi lulusannya. Hasil PDAT 2006 lalu membuktikan kualitas prodi Akuntansi dan Manajemen menempati peringkat teratas dibanding semua perguruan tinggi negeri ini. (lihat topik 'Survey Tenpo 2006')

Tak mengherankan jika 5 dari 12 fakultas di perguruan tinggi ini selalu dibanjari pendaftar (lihat topik 'Informasi SPMB 2007'). Selain Fakultas Ekonomi, juga Fakultas Kedokteran, Hukum, Ilmu Budaya, serta Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Saat ini sekitar 39.000 mahasiswa dalam dan luar negeri yang menuntut ilmu di Universitas Indonesia.

QUOTE

Wajah kampus ITB


#2
Institut Teknologi Bandung

Teknik Informatika, Teknik Pertambangan, Teknik Perminyakan, Teknik Geofisika, dan Teknik Kimia merupakan jurusan yang menjadi andalan ITB. Perguruan tinggi ini mengklaim mahasiswanya sudah "diijon" perusahaan menjelang mereka lulus.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Adang Surachman menyebut lulusan ITB mendapat cap bibit unggul. Wajar jika 100% lulusannya selalu terserap di dunia kerja. "Mahasiswa yang lulus dengan IPK hanya dua pun tetap diterima di perusahaan besar," kata Adang.

Pemberian beasiswa biasanya menjadi maharnya. Misalnya, sebuah perusahaan minyak multinasional dari Norwegia baru-baru ini memberikan beasiswa untuk mahasiswa Teknik Perminyakan. Jika tawaran diterima artinya mahasiswa sudah terikat kontrak untuk bekerja di perusahaan itu setelah lulus.

Meski kesohor sebagai penghasil "tukang insiyur" paling diminati, hasil survey PDAT melihat tak semua jurusan ITB nomor wahid. Fakultas Teknik Arsitektur ITB hanya menempati peringkat tiga -- kalah oleh Teknik Arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung, yang menempati posisi paling atas, dan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, di posisi kedua.

#5 [url]

May 17 07 12:21 AM

Kampus Baru, Lingkungan Baru

Suasana dan metode belajar di kampus jauh berbeda dengan di sekolah menengah. Jadi, jauh-jauh hari siapkan diri Anda memasuki lingkungan baru.

Bagi lulusan sekolah lanjutan atas, kampus adalah lingkungan baru yang asing—ibarat rusa masuk kampung. Bukan hanya karena banyak istilah yang terdengar gres dan mesti diingat. Suasana lama yang sudah dinikmati selama 12 tahun, sejak taman kanak-kanak hingga sekolah lanjutan atas, pun terjungkir balik—tak sekedar sebutan yang berubah dari guru menjadi dosen, atau pakaian seragam yang berganti pakaian bebas.

Ada yang lebih mendasar. Kegiatan belajar-mengajar yang dulu satu arah, monolog, dari guru ke murid berubah menjadi diskusi serta belajar mandiri. Keaktifan mahasiswa di kelas turut menentukan nilai yang bakal diperoleh tiap semester. Akan banyak tugas yang mesti diselesaikan setiap pekan: praktikum, membuat laporan, menulis makalah, membaca buku, mengikuti ujian—dan ini berlaku bagi sekian mata kuliah yang diambil dalam satu semester.

Bila di sekolah guru akan bertanya “apakah kalian sudah belajar halaman sekian?”, di perguruan tinggi dosen tak akan melakukan hal yang sama. Belajar atau tidak, itu urusan mahasiswa; yang penting menulis makalah atau tidak, mengumpulkan tugas atau tidak, lulus ujian atau tidak. Tanggung jawab besar ada di pundak mahasiswa. Jangan harap dosen akan mengurusi hal-hal kecil seperti yang dilakukan guru terhadap murid-muridnya. Dosen, misalnya, tak akan bertanya apakah mahasiswa sudah ke perpustakaan atau belum.

Sistem penilaian di perguruan tinggi juga sama sekali berbeda dengan di sekolah menengah, terutama sejak sistem Satuan Kredit Semester (SKS) diberlakukan di perguruan tinggi pada 1980-an di perguruan tinggi negeri, dan enam bulan berikutnya pada perguruan tinggi swasta. Sebelum sistem SKS diterapkan masih ada istilah ‘’tidak naik tingkat’’. Kalau ‘’tinggal kelas’’ begini, mahasiswa harus mengulang kuliah satu tahun penuh—meski nilai mata-mata kuliah yang lain tidak “merah”.

Sistem SKS memberi peluang bagi mahasiswa yang cerdas untuk menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya atau lebih cepat. Jika seorang mahasiswa berhasil meraih indeks prestasi semester (IPS) dan indeks prestasi kumulatif (IPK) hingga nilai tertentu, ia berkesempatan untuk mengambil jumlah SKS yang lebih besar dari standar.

Cara menghitung IPS sederhana saja, yakni jumlah nilai yang diperoleh dalam satu semester dibagi jumlah SKS yang diambil. Sedangkan IPK merupakan nilai yang didapat dalam seluruh semester yang sudah ditempuh. Aturan mainnya, untuk lulus jenjang S1 mahasiswa harus mengumpulkan minimal 144 SKS. Contohnya di ITB. Secara normal, mahasiswa dapat mengambil 18 SKS per semester. Jika ingin lulus S1 kurang dari tempo empat tahun, silakan mengambil 20 SKS per semester. Jika ingin lebih cepat lagi, silakan mengambil lebih dari itu, dengan syarat IPK-nya 3,25. ‘’Dia bisa mengambil 25 SKS per semester,’’ kata Adang Surahman, Wakil Rektor Bidang Akademik ITB.

Kebebasan dalam menyelesaikan kuliah bukannya tanpa sanksi. Perguruan tinggi secara teratur mengevaluasi IPS dan IPK mahasiswa, yakni pada semester genap (kedua, ketiga, keempat, dan kedelapan). Jika perolehan IPS maupun IPK kurang dari skor minimal yang sudah ditentukan, mahasiswa bersangkutan tidak dapat lagi melanjutkan studi alias drop-out (DO). Tujuan evaluasi ini positif. Bagi kampus, mutu pendidikan terjaga. Bagi mahasiswa, aturan eliminasi ini bisa jadi merupakan penyemangat belajar. Tapi, jika memang tak sanggup studi di kampus yang satu, kesempatan pindah ke kampus lain masih terbuka.

Peluang ngebut SKS juga diberikan oleh beberapa kampus yang departemennya sudah siap, seperti ada semester pendek yang diselenggarakan pada waktu liburan untuk perbaikan nilai. Pada kenyataannya sistem SKS memang menguntungkan mahasiswa. Namun, meminjam pendapat Togu Ofrijaya Tondang, mahasiswa Teknik Lingkungan ITB, cara mengumpulkan SKS yang super-cepat serta merta membuat jantung ikut berderap lebih kencang. Untuk mengejar target SKS tidak harus jumpalitan seperti itu, kata Togu, ‘’Ini bukan sistem kebut semalam.’’

Kian banyak SKS yang diambil, yang berarti jumlah mata kuliahnya bertambah, semakin banyak pula tugas-tugas yang mesti diselesaikan. Mahasiswa dituntut agar bisa membagi waktu untuk urusan kuliah, menggarap pekerjaan rumah, mengikuti praktikum dan menulis laporannya, membuat makalah dan presentasi, serta menyelesaikan urusan-urusan pribadi.

Tak ada kesempatan bermain? Keliru. Justru padatnya kegiatan kuliah mesti diimbangi dengan kegiatan lain agar mahasiswa tidak stres. Ketegangan yang dirasakan sepanjang pekan, terutama pada tahun pertama kuliah, sebaiknya disalurkan melalui kegiatan yang lain. Kegiatan mahasiswa bisa menjadi selingan yang mengobati kejenuhan kuliah dan menciptakan kegairahan.

Ada banyak pilihan kegiatan mahasiswa di kampus. Yang gemar berolahraga bisa memilih unit kegiatan basket, sepakbola, softball, hingga beragam beladiri. Buat yang menyenangi kegiatan diskusi, teater, sastra, di kebanyakan kampus juga tersedia. Begitu pula bagi yang ingin menyalurkan hobinya dalam seni tradisional, seperti tari Jawa, Sunda, Batak, atau Bali. Belum lagi klub bahasa Inggris atau liga film mahasiswa. Mahasiswa tinggal memilih unit yang disukai dan pintar-pintarlah membagi waktu agar kuliah tidak kedodoran.

Kalau pun kegiatan ekstrakurikuler ini tak mengobati, mahasiswa bisa “curhat” kepada dosen pembimbing akademik atau psikolog untuk berkonsultasi. Tapi, menurut Adang Surahman, ‘’Banyak mahasiswa tidak menggunakan fasilitas ini, karena takut dianggap sakit jiwa.’’ Padahal, dosen pembimbing atau psikolog ini memang ditugasi untuk membantu mahasiswa menemukan jalan keluar dari persoalan, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan akademik. Misalnya, ketika Anda bingung menentukan berapa SKS yang akan diambil pada semester depan, atau sewaktu Anda merasa tak nyaman dengan jurusan yang sekarang dan ingin pindah, dosen pembimbinglah tempat berkonsultasi.

Banyak korban berjatuhan karena mahasiswa baru tidak mampu mengubah pola belajarnya dengan tetap mengikuti cara-cara di SMA. ‘’Persoalan yang paling umum terjadi pada mahasiswa baru adalah menghadapi para senior, perubahan pola belajar, dan pondokan,’’ kata Muhammad Anis, Direktur Pendidikan Universitas Indonesia (UI).

Kecenderungan mahasiswa yang lebih dulu masuk untuk berlagak sebagai senior yang mesti dihormati memang belum luntur sepenuhnya. Banyak mahasiswa baru yang merasa cemas bila berhadapan dengan seniornya, misalnya ketika praktikum atau mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen melalui asistennya. Ihwal pondokan atau asrama, persoalan utama yang dihadapi ialah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan membiasakan hidup mandiri tidak bersama orangtua.

Namun ternyata banyak juga calon mahasiswa justru sangat antusias dengan suasana tempat belajar yang baru. ‘’Saya enjoy banget. Banyak sukacitanya,’’ ungkap Indah Rofiandary, 19 tahun, mahasiswa baru Teknik Industri Universitas Trisakti Jakarta. Masa orientasi mahasiswa baru, yang pada tempo doeloe diwarnai cerita-cerita serem kini menjadi ajang saling berkenalan. “Bahkan untuk referensi menambah koneksi kalau mencari kerja nanti,’’ kata Andi Gabratama, 20 tahun, mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Parahiyangan Bandung.

Tahun pertama kuliah memang lumayan berat bagi mahasiswa baru. Kebiasaan lama mesti dibuang, diganti dengan yang baru. Mahasiswa baru secara bertahap harus berusaha menyesuaikan diri dengan program studi yang dipilihnya. Masalahnya: belum tentu jurusan yang dimasuki cocok benar dengan yang diangankannya.

Bila tak pandai-pandai menyesuaikan diri, yang terjadi justru berkecamuknya rasa frustrasi. Hal ini diakui para mahasiswa yang dijumpai tim Tempo News Room di beberapa kota, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan. ‘’Saya salah jurusan,’’ kata Togu Ofrijaya Tondang, mahasiswa tahun kedua pada Teknik Lingkungan di ITB. Pilihan pemuda asal Medan ini sebenarnya program studi Akuntansi di UI, namun hasil ujian seleksi masuk perguruan tinggi (SPMB) jeblok. Pada pilihan kedua Teknologi Lingkungan ITB, Togu merasa lebih pas.
Kurang sreg pada pilihan program studi sangat mempengaruhi kelancaran studi. ‘’Saya mengulang SPMB lagi,’’ ujar Indra Hartarto Tambunan, 20 tahun. Pemuda Balige, kota sejuk di Tapanuli, Sumatera Utara, ini merasa tersiksa pada tahun pertama kuliah di Teknik Kelautan (TK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Menurut Indra, udara panas ibukota Jawa Timur itu menguras keringatnya. Kipas angin yang mengembuskan udara semilir di ruang kuliah justru bikin mengantuk. Tugas maupun pe-er di TK ITS begitu berjibun, sementara Indra tak begitu paham mata kuliahnya. Ini berbeda dengan suasana Kota Kembang Bandung yang sejuk alami seperti di kampung halamannya, di tepi Danau Toba sana. ‘’Saya memilih ganti Teknik Elektro di ITB, karena cocok dengan bidang ini,’’ kisahnya. Selain itu, banyak teman asal Sumatera Utara yang kuliah di ITB. Pindah jurusan sebenarnya tidak dianjurkan oleh beberapa perguruan tinggi. Banyak faktor yang perlu dipertimbangan, terutama kerugian dari segi waktu dan biaya. Waktu satu tahun terbuang begitu saja. Rugi uang apalagi. Coba dihitung: kuliah satu semester di ITS Rp 650 ribu, di ITB Rp 1,55 juta. Untung orangtua Indra sangat membantu dan membesarkan hati. ’’Yang terbaik untukmu, bah, lakukanlah,’’ ujar Indra menirukan perkataan orangtuanya.

Pengalaman Ulay Nita Kuramti berbeda. Ulay merasa program studi Peternakan yang sudah dijalani dua semester terasa kurang afdol. Ia lalu pindah ke Kedokteran Gigi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Kenapa? ‘’Saya cari yang lebih menjamin masa depan, dan profesi dokter gigi itu feminis,’’ katanya. Ketika pindah jurusan, Ulay menetapkan sendiri.

Menghitung untung-rugi pindah jurusan atau program studi memang dilematis. Tapi, apa boleh buat. Ketika pilihan pertama kandas di tengah jalan, perhitungan untung-rugi tergantung yang punya diri. Kalau ditilik-tilik, hal seperti ini terjadi lebih banyak karena pada tahun-tahun sebelum masuk kampus calon mahasiswa tidak mempersiapkan secara matang: bakat, minat, motivasi, kemampuan otak, serta kemampuan keuangan orang tua, dan latar belakang budaya dan kondisi geografis kota tujuan kuliah. Untuk yang terakhir ini contohnya bila Anda orang Minang, siapkah makan gudeg jika kuliah Yogyakarta?

Beberapa perguruan tinggi menetapkan aturan pindah jurusan ataupun program studi dengan rambu-rambu, misalnya mahasiswa diberi kesempatan mencoba mengikuti seleksi lagi, paling banter tiga kali kesempatan pada tahun-tahun berikutnya. Bagi orang yang tahu kemampuan diri, pasti akan berpikir dua tiga kali untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Jangan lupa, jutaan lulusan sekolah menengah atas yang masih gres juga berlomba memperebutkannya. Jadi, apakah Anda siap bersaing lagi, mungkin dengan lebih keras? Jangan sampai kuliah hanya sekedar formalitas agar menyandang “gelar” mahasiswa.

Banyak Jalan Menuju Kampus

Ada banyak jalan menuju kampus. Salah satunya apa yang disebut Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB)—yang di masa lalu dinamai Sipenmaru dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Ini merupakan sistem ujian masuk perguruan tinggi negeri yang bersifat reguler dan diselenggarakan secara nasional, dengan materi ujian yang sama.

Setiap calon mahasiswa dapat mengikuti ujian pada jadwal yang sudah ditentukan di lokasi yang paling dekat dengan tempat tinggalnya. SPMB diselenggerakan di kampus-kampus perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia, termasuk yang sudah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Syarat mengikuti SPMB juga sama bagi setiap calon mahasiswa sesuai dengan kelompok pilihannya: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) atau Ilmu Pengetahuan Campuran (IPC yang artinya mengikuti dua pilihan IPA dan IPS).

Berbeda dengan perguruan tinggi negeri yang mengadakan ujian secara serentak, perguruan tinggi swasta menyelenggarakan ujian masuk secara sendiri-sendiri. Dengan demikian terbuka kesempatan bagi calon mahasiswa untuk mengikuti ujian masuk baik di negeri maupun swasta.

Jalur lain untuk masuk perguruan tinggi ialah berdasarkan prestasi akademik calon mahasiswa. Cara penerimaan ini ditempuh oleh beberapa perguruan tinggi, baik negeri mau pun swasta. Biasanya kampus-kampus itu sudah menggalang kerjasama cukup lama dengan beberapa SMA yang sudah terbukti menghasilkan bibit-bibit unggul.

Prestasi akademik diukur sejak calon mahasiswa duduk di bangku SMA, misalnya, meraih peringkat antara 1–5. Jalur prestasi ini banyak dilaksanakan tidak hanya di kampus-kampus negeri. Beberapa PTS tercatat sudah lama menyelenggarakan program sejenis. Sebutan program ini bermacam-macam, umpamanya Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), Penelusuran Minat, Bakat dan Potensi (PMBP), Prestasi dan Pemerataan Kemampuan Belajar (PPKB), Jalur Penelusuran Prestasi. Para juara Olimpiade Matematika atau Fisika tingkat nasional, apalagi internasional, dapat masuk melalui jalur ini.

Yang berprestasi di bidang olahraga atau memiliki kepiawaian lain bisa disalurkan atau dibantu melalui program, misalnya, Penjaringan Bibit Atlet Daerah (PBAD), seperti yang dilaksanakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Kampus Bulaksumur ini juga menggalang kemitraan dengan institusi maupun beberapa pemerintah daerah untuk menanggung biaya pendidikan calon mahasiswa yang berprestasi. Program ini disebut Program Bibit Unggul Kemitraan (PBUK). Mirip UGM, ITB juga mempunyai jalur Kemitraan Nusantara dan Penelusuran Minat, Bakat dan Potensi (PMBP). Faedah progam-program ini pada intinya menyokong biaya pendidikan para mahasiswa yang memang berkualitas dan dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Tampaknya jalur yang berbasis mutu akademik terpaksa sedikit berbelok tatkala dipakai untuk patokan pembayaran uang pangkal, seperti dilakukan beberapa perguruan tinggi negeri yang berubah status menjadi BHMN, yakni UI, UGM, ITB, IPB, dan Unair. Pada tahun akademik 2004/2005 misalnya, perguruan tinggi ini meluncurkan semacam “jalur khusus”. Di UI program ini dinamai Program Prestasi Minat Mandiri (PPMM). Mereka yang memilih jalur ini dikenai sumbangan wajib sebesar antara Rp 25 juta hingga Rp 75 juta–tergantung fakultas yang dipilihnya, makin favorit makin mahal. Begitu pula yang terjadi di Institut Teknologi Bandung (ITB), yang menetapkan sumbangan minimal Rp 45 juta.

Perihal ujian masuk melalui “jalur khusus”, masing-masing perguruan tinggi mempunyai kebijakan yang berbeda-beda. UI, misalnya, tidak mengadakan tes bagi calon mahasiswa yang masuk lewat Program Prestasi dan Minat Mandiri ini. Penerimaan mengacu pada nilai calon ketika mengikuti SPMB dengan menetapkan kisaran toleransi lima persen di bawah nilai standar kelulusan SPMB. Misalnya, batas minimal nilai kelulusan SPMB 780. Dengan rentang lima persen di bawah nilai itu, yakni 39 poin, maka nilai terendah diterima adalah 741. Di bawah itu tidak akan dilayani.

Sementara itu, ITB tetap menggunakan tes tersendiri sebagai ujian masuk. Tes ini meliputi psikotes, tes bakat skolastik, IPA terpadu, dan bahasa Inggris. Semua itu berorientasi pada potensi, bukan prestasi seperti seleksi lewat SPMB. Bila lolos tes ini, calon mahasiswa baru bisa masuk melalui jalur khusus.

Nah, banyak jalur untuk masuk perguruan tinggi. Tinggal kini Anda menghitung kemampuan, baik otak maupun dana.

#6 [url]

May 17 07 12:26 AM

Cermat Memilih Program Studi

"Jangan terpesona nama besar, pilih jurusan sesuai minat dan potensi, bukan karena favorit."

MEMILIH perguruan tinggi, jurusan atau program studi, mungkin sama sulitnya dengan memilih calon istri. Besar pula risikonya. Tak jarang pacar yang semula tampak baik dan setia, setelah dinikahi menjadi mata duitan atau selingkuh. Begitu pula perguruan tinggi. Setelah terdaftar sebagai mahasiswa, boleh jadi baru terasa bahwa jurusan atau perguruan tinggi yang kita pilih tak seperti yang kita bayangkan. Kita menjadi tak nyaman, malas pergi ke kampus, jarang ke perpustakaan, lalu putus kuliah alias drop out (DO). Sudah uang melayang, waktu pun terbuang. Sayang, kan?

Senyampang belum terdaftar pada salah satu perguruan tinggi, cermati benar calon kampus yang Anda incar. Membuat pilihan yang tepat merupakan keputusan penting, sebab pilihan itu akan menentukan masa depan karier Anda. Ada nasihat yang patut dipegang: jangan terpesona nama besar sebuah perguruan tinggi. ‘’Tetapkan lebih dulu program studi, baru memilih universitas,’’ demikian saran Adang Surahman, Wakil Rektor Bidang Akademik ITB.

Pilihan jurusan atau program studi yang tidak tepat dapat berakibat fatal pada kehidupan jangka panjang. Putus belajar di tengah jalan, prestasi yang buruk, stres, kuliah dengan rasa terpaksa, dan berbagai kondisi negatif lainnya merupakan konsekuensi logis dari pilihan yang salah. Pertanyaannya: apa yang dapat dijadikan dasar untuk memilih program studi atau jurusan agar semua hal yang buruk itu tidak menimpa kita?

Mengenal kemampuan diri sejak awal mungkin dapat dipegang sebagai patokan pertama, bukan saja dalam memilih jurusan, melainkan juga untuk menghubungkan antara pendidikan di perguruan tinggi dan lapangan pekerjaan di kemudian hari. Sejak dini Anda selayaknya mengenali diri sendiri, mengetahui kelebihan dan kekurangan Anda, mengerti apa yang Anda sukai. Apakah Anda terbilang orang yang senang berteman, suka berempati pada orang lain, atau gemar menganalisis watak seseorang? Jenis yang seperti ini mungkin cocok mengambil jurusan yang banyak berhubungan dengan manusia, misalnya Fakultas Ilmu Sosial dan Politik atau Fakultas Psikologi.

Meski tak selalu benar, ajakan teman, pertimbangan kerabat, bimbingan guru di SMA, serta saran lembaga bimbingan belajar perlu ditimbang secara matang dalam menetapkan program studi pilihan. Beruntunglah Indah Rofiandary. ‘’Sejak SMA bawaan saya maunya masuk ke teknik. Dari psikotes pun, hasilnya nggak salah. Jadi saya masuk jalur yang benar,’’ ungkap mahasiswa Teknik Industri Usakti ini, yang telah menyiapkan diri sejak dini agar program studi yang diinginkannya tercapai.

Manakah yang sebaiknya didahulukan, memilih perguruan tinggi baru kemudian jurusan/program studinya atau sebaliknya? Tentang hal ini, ahli pendidikan Dr. Arief Rachman (Panduan Memilih Perguruan Tinggi 2003) menyatakan bahwa kebanyakan dari kita selama ini hanya memusatkan pilihan pada perguruan tinggi tertentu. Rasanya orang tua akan sangat bangga jika anaknya kuliah di perguruan “X” misalnya, tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan program studi yang dipilih—prospek dan kualitasnya. Padahal, perguruan tinggi hanyalah institusinya, sementara yang menjadi tempat belajar adalah jurusan atau program studi. Jadi, yang harus didahulukan adalah program studinya.

Di samping soal minat, calon mahasiswa sebaiknya mempertimbangkan pula kemampuan dirinya. ‘’Jangan sampai setelah masuk malah menyesal,’’ lanjut Adang. Kalau kemampuan akademik Anda pas-pasan, dan ternyata progam studi pilihan Anda banyak peminatnya, persaingan untuk merebut satu kursi di jurusan itu akan amat ketat, mungkin melebihi persaingan memperebutkan kursi anggota parlemen di Senayan. Bisa-bisa Anda tereliminasi. Ihwal persaingan ini, Satryo Soemantri Brodjonegoro, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, mengingatkan, ‘’Kalau kemampuan tidak terlalu tinggi jangan memilih perguruan tinggi yang ketat persaingannya.’’

Dari saran ini ada dua hal penting yang patut dicatat: kemampuan otak serta daya tampung perguruan tinggi. Berbicara soal kecerdasan, semua orang dapat mengukur diri. Perihal daya tampung, Dirjen Satryo memberikan data sebagai acuan. Pada tahun akademik 2003/2004 jumlah lulusan sekolah menengah lanjutan atas (SLTA) sekitar 1,6 juta orang. Sementara daya tampung untuk mahasiswa baru (yang disediakan oleh 70 perguruan tinggi negeri ditambah 2.350 perguruan tinggi swasta) cuma 600 ribu. Asumsi tahun berikutnya, lulusan SLTA 1,8 juta, sedangkan daya tampung perguruan tinggi hanya sekitar 800 ribu. Angka-angka ini mencerminkan betapa tidak mudahnya memasuki perguruan tinggi.

Dalam persaingan antarkampus yang semakin ketat, pemerintah berambisi menambah daya tampung perguruan tinggi. Tolok ukur yang dilihat adalah angka partisipasi kasar (APK), atau angka perbandingan total antara jumlah penduduk yang menuntut pendidikan di perguruan tinggi dibandingkan dengan usia penduduk antara 19 hingga 24 tahun. Saat ini Indonesia cuma mempunyai tiga juta mahasiswa. Sementara jumlah penduduk usia 19–24 tahun sekitar 26 juta. Berdasarkan angka itu, menurut Satryo, APK Indonesia baru mencapai 13 persen. Mestinya pada 2010 APK Indonesia mencapai 15 persen. APK negara-negara maju mencapai 25 hingga 60 persen..

Banyaknya peminat pada program studi tertentu bisa dilihat pula dari berlomba-lombanya berbagai perguruan tinggi membuka program studi tersebut, meskipun mutunya belum tentu terjamin. Kelatahan untuk membuka program studi yang lagi ngepop itu diakui oleh Suharyadi, Ketua Asosisasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi). ‘’Program studi dibuka hanya karena ikut-ikutan belaka, lantaran diminati masyarakat,’’ ujarnya. Mengingat kondisi pendidikan tinggi yang masih kedodoran, orangtua dituntut jeli dan mengarahkan anak-anaknya secara cermat.

Yang patut diperhatikan secara cermat antara lain reputasi sebuah perguruan tinggi penyelenggara program studi yang diincar—reputasi inilah yang membuat banyak perguruan tinggi swasta banjir peminat. Kendati masih mengandung kelemahan, masyarakat dapat melihat reputasi sebuah perguruan dari nilai akreditasi program studinya. Bila nilai akreditasinya A, berarti program studi memiliki kelayakan yang sangat baik dalam hal jumlah dan kualifikasi tenaga pengajar, kelengkapan sarana kuliah seperti perpustakaan, ruang kuliah, laboratorium.

Masalahnya, apakah kampus yang bersangkutkan memberikan informasi secara jujur kepada Badan Akreditasi Nasional—lembaga yang bertugas memantau kualitas perguruan tinggi? Apakah nilai C atau A itu mencerminkan kualitas yang sebenarnya? ‘’Kelemahan akreditasi ini: banyak perguruan tinggi yang tidak jujur mengisi formulir,’’ ungkap Suharyadi. Meskipun pihak BAN-PT juga memeriksa ke lapangan untuk mencocokkan data yang diterima dari kampus-kampus, tapi yang lebih aktif dalam masalah ini adalah pihak perguruan tinggi.

Bagaimana agar masyarakat tidak terkecoh oleh nilai akreditasi sebuah perguruan tinggi? Satryo mengemukakan resep pembanding. Reputasi perguruan tinggi, seperti kualitas lulusan, karya tulis, temuan ilmiah baru, hingga ilmu-ilmu baru yang dihasilkan perguruan tinggi yang bersangkutan, bisa menjadi tambahan bahan dalam menentukan pilihan. “Tengoklah website dan brosurnya,” kata Satryo.

Soal lain yang mesti dipertimbangkan dalam memilih program studi dan perguruan tinggi ialah faktor biaya, yakni biaya kuliah seperti uang pangkal, SPP, buku, serta praktikum, dan biaya hidup sehari-hari semisal pondokan, transportasi, dan makan (Baca Tulisan Lain: Siapkan Dana Sejak Dini). Biaya kuliah kini semakin mahal. Sebagai contoh, uang pangkal untuk masuk Universitas Indonesia pada tahun akademik 2004/2005 berkisar dari Rp 5 juta hingga Rp 25 juta bagi mahasiswa yang lulus melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Bagi yang melalui jalur program mandiri, ia harus menyetor antara Rp 25 juta hingga Rp 75 juta. Tengok pula yang diberlakukan sebuah perguruan swasta di Jakarta, Universitas Dr. Moestopo (Beragama). Di kampus ini mahasiswa baru Fakultas Ekonomi harus membayar uang pangkal Rp 7 juta, sementara yang mengambil Kedokteran Gigi sebesar Rp 38 juta.

Cara terbaik untuk menghindari salah langkah ialah mencari informasi yang akurat mengenai besaran biaya-biaya tadi. Informasi ini sangat bermanfaat untuk menyesuaikan kemampuan finansial Anda dengan biaya hidup dan biaya kuliah agar terhindar dari kemungkinan putus kuliah di tengah jalan. Misalnya, bila Anda saat ini tinggal di Medan dan tertarik untuk kuliah di ITB jurusan Teknik Informatika, tapi dari segi finansial kurang dukungan, mengapa Anda tidak mencari program studi serupa yang digelar perguruan tinggi di Medan. Belajar yang kondusif dapat tercapai antara lain bila Anda tak memikirkan lagi soal-soal biaya ini.

Jadi, banyak pilihan program studi dan perguruan tinggi, pilihlah yang terbaik bagi Anda dengan mempertimbangkan minat, kemampuan, tingkat persaingan masuk, kualitas penyelenggara program studi, serta dukungan finansial.

#7 [url]

May 17 07 12:30 AM

Siapkan Dana Sejak Dini


Tak sedikit biaya untuk kuliah di perguruan tinggi. Bagaimana menyiasatinya?
Banyak orang tua mengeluh: biaya pendidikan yang harus mereka tanggung terus membubung bak jin naik ke langit. Para orang tua akan berpikir dua-tiga kali sebelum mengirim anaknya ke perguruan tinggi. Mereka bertanya-tanya: apakah biaya pendidikan yang dikeluarkan sekarang akan sepadan dengan gaji yang diterima si anak kelak bila sudah bekerja; apalagi, setelah menjadi sarjana, tak ada jaminan si anak langsung tertampung di pasar tenaga kerja yang serba terbatas.


Menjual kendaraan, sawah, kebun, atau hewan ternak adalah jurus pendek yang biasa ditempuh orang tua yang kekurangan dana untuk menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Bahkan, banyak pula orang tua yang akhirnya menyerah kepada nasib. Tak heran bila ada yang berpendapat bahwa kini hanya kalangan berada saja yang sanggup membiayai anaknya kuliah. “Saya sedih mendengar omongan seperti itu,” kata Muhammad Anis, Direktur Pendidikan Universitas Indonesia.

Uang pangkal di Kampus Depok itu memang dipatok dalam kisaran Rp 5 juta hingga Rp 25 juta–tergantung pada fakultas yang dipilih calon mahasiswa; makin banyak peminatnya dan makin membutuhkan fasilitas yang lebih komplit, jelas biayanya kian mahal. Uang pangkal sebesar itu berlaku bagi mereka yang masuk UI melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Bagi yang masuk melalui program mandiri, yang lazim disebut jalur khusus, calon mahasiswa wajib setor hingga Rp 75 juta. Namun, menurut Anis, ‘’Uang pangkal dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing orangtua mahasiswa. Jika tak punya, nol rupiah pun jadi.’’ Artinya, yang mampu memberi subsidi kepada yang kurang mampu.

Dalam catatan media massa akhir-akhir ini, protes soal biaya tinggi dituai betul oleh kampus-kampus yang tak hanya berstatus Badan Hukum Milik Negara (BHMN), tapi juga perguruan tinggi negeri maupun swasta lainnya. Ada yang meminta uang pangkal ditiadakan. Ada pula mahasiswa yang mendemo rektornya dan meminta agar besaran Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) diturunkan.

Tampaknya masyarakat mulai disadarkan oleh ancar-ancar yang diberikan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional bahwa biaya kuliah per tahun, setiap mahasiswa, sekitar Rp 18 juta. Jumlah ini dianggap wajar, karena setelah dihitung-hitung dapat memenuhi standar penyelenggaraan proses belajar-mengajar secara modern. Maksudnya, agar kampus tidak tekor dalam menggaji dosen lulusan S3, membiayai laboratorium, perpustakaan, komputer, hingga mengelola fasilitas lain. Dengan begitu pengelola kampus jadi tenang. ‘’Mampu bersaing, bisa mendunia, dan menghasilkan karya-karya intelektual,’’ ujar Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Satryo Soemantri Brodjonegoro. Meski, tak berarti bahwa kampus yang menentukan biaya pendidikannya relatif murah, mutu lulusannya juga murahan.

Jika di waktu-waktu yang lalu banyak orang tua memilih perguruan negeri karena biayanya lebih murah, kini pertimbangan itu tak lagi yang utama. ‘’Kuliah di negeri atau di swasta kini sama mahalnya,’’ kata Susana, 44 tahun, yang putri sulungnya diterima di Universitas Atmajaya Yogyakarta dengan kewajiban membayar uang pangkal sekitar Rp 8 juta. Uang sebesar itu dirasa tak begitu mahal, karena pihak kampus memberi kelonggaran. ‘’Boleh diangsur,’’ lanjut Susana.

Subsidi silang memang dianut oleh salah satu kampus swasta di Kota Gudeg itu dalam penerimaan mahasiswa baru. Besarnya uang pangkal tidak seragam pada setiap mahasiswa yang baru masuk, tergantung kemampuan orang tua, peringkat calon mahasiswa, jalur penerimaan biasa atau khusus, atau pada gelombang ke berapa mahasiswa diterima. Toh masih ada sisa pertanyaan, seperti yang diajukan Susana, ‘’Kalau dia bisa bayar uang pangkal gede, tentunya lebih dipertimbangkan ya?’’

Biaya masuk dan ongkos kuliah per semester memang sangat variatif, tergantung masing-masing perguruan tinggi. Biaya kuliah misalnya, ada yang Rp 1juta per semester, ada pula yang mencapai Rp 60-80 juta sebagaimana dikenakan oleh beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta. Kaget? Itu baru perkara uang pangkal dan SPP, belum uang praktikum, dana untuk membeli buku, biaya indekos atau tinggal di asrama, makan, ongkos transportasi, dan pengeluaran lain.

Agar tidak meleset dalam menghitung biaya kuliah, ada beberapa patokan untuk menyusun anggaran pendidikan. Sebelum mengancik ke jenjang S1 ada baiknya Anda mencerna segala bentuk biaya, yang biasanya juga memakai beragam nama, yang disodorkan oleh pengelola perguruan tinggi. Bersiaplah memencet kalkulator dan mulai menghitung, pos biaya mana saja yang dibayar sekali dalam masa perkuliahan, pos mana pula yang tempo pembayarannya per semester maupun insidental. Kemudian biaya hidup sehari-hari, per bulan, biaya indekos atau kontrak rumah, hingga akhir masa kuliah. Lalu, biaya perlengkapan kuliah, seperti buku, alat tulis-menulis. Biaya untuk obat stres pun jangan dilupakan: sesekali rekreasi, nonton bioskop, atau pun mentraktir pacar.

Biaya yang dibayar hanya sekali dalam masa perkuliahan antara lain uang pendaftaran (untuk membeli formulir pendaftaran, termasuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi), uang her-registrasi (pendaftaran ulang setelah lulus ujian seleksi masuk), uang pangkal, sumbangan gedung (ada yang memakai istilah lain: dana pembangunan, dana pembangunan fasilitas, sumbangan pembangunan fasilitas, atau sumbangan wajib dana pembangunan), sumbangan sukarela, uang ospek (atau dana pelaksana program pengenalan studi almamater), uang jaket almamater, kartu tanda mahasiswa, tes kesehatan. Beikutnya, biaya per semester, antara lain Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP), uang Satuan Kredit Semester (SKS), uang praktikum/laboratorium, uang perpustakaan, uang ujian semester.

Sudah? Belum. Menjelang lulus pun masih ada biaya tambahan yang mesti dikeluarkan seperti uang bimbingan skripsi, biaya Praktik Kerja Lapangan (PKL) atau Kuliah Kerja Nyata (KKN), biaya untuk mengerjakan tugas akhir atau membuat skripsi, biaya menempuh ujian skripsi, hingga acara wisuda yang mengharuskan mahasiswa beli atau sewa toga dan menyumbang uang perayaan wisuda. Sementara itu, keperluan kegiatan mahasiswa pun perlu biaya. Misalnya yang dikelola oleh Himpunan Mahasiswa Fakultas/Jurusan, seperti majalah, rekreasi naik gunung, berkemah.

Pada kampus negeri (juga BHMN), pengelompokan biaya lebih praktis. Misalnya, tidak ada biaya SKS bagi mahasiswa program reguler (S1) yang berasal dari ujian SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Yang ada uang SPP yang harus dibayar per semester. Uang SKS baru dipungut ketika yang bersangkutan mengambil program semester pendek. Atau, mahasiswa yang mengambil jenjang diploma, ekstensi, pascasarjana maupun doktoral. Sebagai bahan perbandingan, di perguruan tinggi swasta harga satu SKS mata kuliah tertentu berbeda dengan yang lain. Misalnya satu SKS mata kuliah A harganya Rp 100 ribu. Jika pada semester itu mahasiswa harus mengambil 3 SKS, biaya yang harus dibayar Rp 300 ribu.

Begitu banyak biaya harus dikeluarkan. Cara terbaik untuk menghadapinya ialah mempersiapkan diri. Bahkan, semestinya sejak dini.

Ada banyak jalan untuk menyiapkan biaya pendidikan. Selain tabungan pendidikan, asuransi pendidikan, properti pun dapat dipakai sebagai instrumen. ‘’Membeli rumah bisa dijadikan cara untuk menyiapkan biaya pendidikan anak di masa depan,’’ kata Safir Senduk, perencana keuangan. Tentu saja membeli rumah sebagai modal mesti dilaksanakan jauh-jauh sebelumnya, misalnya sepuluh tahun sebelum anak masuk kuliah. Safir Senduk melihat harga properti termasuk tak mudah diguncang inflasi. Harganya relatif stabil. Meski kebanyakan orang lebih memilih lembaga asuransi maupun perbankan.

Bila orang tua memilih asuransi pendidikan, disiplin membayar premi harus dipegang teguh. ‘’Para orangtua dipaksa disiplin menabung dalam arti membayar premi,’’ kata Ana Mustamin, juru bicara Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, yang termasuk perusahaan asuransi pertama yang mengeluarkan produk asuransi pendidikan di Indonesia. Dasar pemikirannya: ibarat pendidikan kunci keberhasilan, maka asuransi pendidikan adalah lubang kuncinya. Ana menyarankan, dalam memilih lembaga asuransi hendaknya mempertimbangkan kredibilitas perusahaan dan faktor layanan.

Pendapat yang tak jauh berbeda diutarakan Senduk. Kredibilitas ini menyangkut usia perusahaan asuransi tersebut dan bagaimana kesehatan keuangannya. Calon nasabah bisa memeriksa kondisi kesehatan perusahaan asuransi melalui laporan yang diterbitkan setiap tahun. ‘’Media massa sering melakukan pemeringkatan perusahaan asuransi. Itu bisa dipakai sebagai rujukan,’’ kata Safir Senduk. Perhitungan masa pendidikan dan jumlah biayanya paling tidak merupakan hal terpenting dalam menghitung biaya pendidikan.

Bagaimana dengan tabungan pendidikan? Umumnya nasabah lebih leluasa menentukan besarnya tabungan. Menurut Gunadjaja, Head of Product Development Bank Permata, tabungan pendidikan lebih luwes ketimbang asuransi pendidikan. ‘’Nasabah menaruh uang langsung di bank,’’ katanya. Lagi pula, ada kelebihan yang ditawarkan, kata Gunawidjaja, ‘’yakni tabungan pendidikan sudah meng-cover asuransi.’’ Sejak satu tahun terakhir Bank Permata menawarkan tabungan Permata Pendidikan.

Dengan alasan pendidikan kini menjadi prioritas bagi orang tua, banyak bank yang mengeluarkan produk tabungan pendidikan sejenis. Bank Niaga, misalnya, bahkan sejak 12 tahun yang silam menggarap pasar ini melalui produknya yang kini diberi nama Niaga Pendidikan. ‘’Pendidikan yang baik itu tidak murah,’’ kata J. Donny Bima Harjuna, Consumer Product Development Manager Bank Niaga. Dibandingkan dengan produk tabungan biasa, tabungan pendidikan lebih mengikat. ‘’Banyak godaan untuk mengambil tabungan biasa,’’ lanjut Donny.

Faktor utama yang harus diperhatikan dalam tabungan pendidikan ialah mengambil jarak waktu sejauh mungkin. Makin tersedia banyak waktu untuk menabung, kian kecil cicilan bulanannya, sehingga memperingan beban penabung. Faktor bunga yang ditawarkan juga patut diperhatikan. Kian tinggi bunga yang diberikan, kian cepat terkumpul dana yang dibutuhkan.

Faktor berikutnya ialah adanya perlindungan asuransi atas dana pendidikan, yang dapat memperkecil ketidakpastian pendidikan anak di masa depan. Yang terakhir, menjaga fleksibilitas penyetoran dan pengambilan dana. Ini diperlukan untuk mengantisipasi melesetnya perhitungan keuangan nasabah. Misalnya, uang tabungan pendidikan terpaksa diambil karena ada kebutuhan sangat mendesak.

Menyediakan dana untuk kuliah memang tak bisa mendadak, kecuali bila orang tua punya simpanan harta yang melimpah. Karena itu, menyiapkan dana untuk kuliah membutuhkan perencanaan tersendiri. Persiapan yang tidak memadai hanya akan membuat orang tua pontang-panting, bisa-bisa gali-lubang-tutup-lubang. Lain halnya bila orang tua sudah siap dengan asuransi atau tabungan pendidikan, artinya jaminan sumber biaya kuliah sudah di tangan.

Bagaimana bila orangtua tidak siap dengan asuransi atau tabungan? Beasiswa memang bisa dijadikan salah satu dewa penolong, namun lazimnya beasiswa baru bisa diperoleh bila seseorang sudah menjadi mahasiswa dan berprestasi bagus. Peran orangtualah untuk ikut mendorong anak agar maju. Jika tak ada lagi yang diharapkan, hitunglah biaya-biaya tadi dengan hati dingin. Rencanakan dengan matang. Orang tua bisa mengajak anak-anak untuk ikut menghitung dan berpikir mencari solusi. Jangan sampai kalkulator hancur berkeping kena pencet jemari berulangkali.



Boks 1:

Kiat Menyiapkan Dana Pendidikan

1. Perkirakan dulu berapa biaya pendidikan kelak sesuai jenjang pendidikan anak. Ini bisa dilakukan dengan menentukan pilihan sekolah atau perguruan tinggi bagi anak Anda, bidang studi, lokasi, dan biaya lain.

2. Hitunglah kesanggupan Anda untuk berinvestasi. Caranya, hitung berapa dana tunai Anda kini dan penghasilan yang bisa disisihkan untuk pendidikan anak. Jika dengan dana tunai yang ada bisa mencapai target, sebaiknya investasikan sekali saja di muka, tanpa perlu menyetor premi asuransi atau tabungan rutin. Bila tidak, mulailah berinvestasi rutin.

3. Sesuaikan kemampuan Anda dengan jangka waktu dan target biaya pendidikan yang ingin dicapai untuk menentukan setoran rutin premi asuransi atau tabungan. Makin lama jangka waktu setoran, makin kecil setorannya, sehingga makin ringan bebannya. Sebaiknya lakukan investasi sedini mungkin.

4. Untuk tabungan pendidikan, pilih yang memberi bunga tinggi agar memberikan hasil investasi yang optimal.

5. Di lain pihak pahamilah bahwa tidak ada tabungan pendidikan dengan asuransi yang betul-betul gratis. Untuk menanggung risiko pada nasabah, bank bekerjasama dengan perusahaan asuransi dan tidak menanggung sendiri risiko itu. Pihak asuransi pasti akan mengenakan premi dan biaya asuransi yang dibebankan pada bank. Ujungnya, bank mengurangi bunga. Jadi, bila ada tawaran asuransi gratis, pastikan betul berapa besar beban nasabah akibat pengurangan bunga dan total manfaat asuransi.

6. Pilih tabungan pendidikan yang ‘dikunci’ (hanya bisa diambil setelah jatuh tempo). Siapkan tabungan lain yang terpisah agar bila ada kebutuhan lain tidak mengganggu tabungan pendidikan.

7. Belilah asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan yang fleksibel, seperti jumlah atau jadwal setoran bisa diubah sewaktu-waktu sesuai kondisi kebutuhan dan keuangan Anda. Misalnya, ‘mumpung’ ada THR atau rezeki nomplok, Anda bisa langsung menyetor. Anda bisa menambah jumlah setoran rutin bila diperkirakan biaya pendidikan kelak melebihi perkiraan. Bila ada kebutuhan mendesak, setoran bisa dikurangi atau sebagian bisa diambil.

8. Sebaiknya Anda menyiapkan pula cadangan sumber dana lain, mendampingi asuransi atau tabungan pendidikan. Misalnya reksadana.

Remove this ad

#8 [url]

May 17 07 12:32 AM

Cara Hemat Berburu Buku

Selain meminjam dari perpustakaan, berburu buku murah merupakan cara ampuh agar tak ketinggalan kuliah.

Buku adalah jendela dunia. Melalui buku, kita bisa melongok isi dunia seluas-luasnya. Kalau Anda sudah menjadi mahasiswa, buku tentu saja menjadi menu utama yang mesti Anda santap tiap hari. Selain untuk melongok isi dunia, bagi seorang mahasiswa buku diperlukan untuk memenuhi tuntutan perkuliahan. Berbeda dengan ketika masih duduk di bangku SMA, kebutuhan buku mahasiswa sungguh berjibun. Bayangkan, untuk satu mata kuliah saja bisa diperlukan empat sampai lima judul buku.

Pentingnya buku dirasakan oleh Mikael Arwan, mahasiswa Fakultas Komunikasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Perkembangan teori dan buku-buku sosial politik yang berlangsung sangat cepat membuat Mikael tak bisa berleha-leha. "Kalau tidak baca, sering kerepotan. Apalagi kalau ada tugas membuat paper, tanpa referensi jelas sangat susah," kata Mikael.

Nah, persoalannya jika kantong cekak dan jumlah kiriman uang dari orangtua pas-pasan. Apalagi jika orangtua memang tidak menganggarkan buku untuk anaknya. Kesulitan seperti ini dialami Muhammad Fahriza. Mahasiswa Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Gadjah Mada (UGM), itu setiap bulan harus menyisihkan uang tidak kurang dari Rp 50 ribu untuk membeli buku-buku diktat. Orangtuanya di Palembang tidak pernah memberikan anggaran khusus untuk buku. "Kita harus pintar-pintar membagi uang. Kalau tidak segera dibelikan buku, bisa-bisa uang kiriman habis untuk keperluan lain," katanya. Apa lagi, tidak semua diktat kuliah tersedia dalam bentuk buku. Terkadang, kata Fahriza, dosen membuat modul sendiri untuk difotokopi. Artinya, perlu pos anggaran lagi.

Itu baru untuk buku diktat. Belum buku-buku lain untuk memperluas cakrawala pengetahuan dan berpikir di luar buku kuliah. Dibutuhkan siasat agar Anda tetap bisa membeli buku tanpa harus menguras kantong terlalu dalam. Caranya: sering-seringlah mengunjungi pusat penjualan buku murah. Harga buku di tempat ini lebih miring dibanding di toko buku besar. Lumayan, 10 sampai 35 persen.

Anda tak perlu canggung memasuki areal pusat buku murah di kota tempat menimba ilmu. Juga tak perlu gengsi. Tempat seperti itu sering didatangi berbagai kalangan, dari siswa sekolah dasar, menengah, sampai mahasiswa, bahkan guru dan dosen. Para kolektor buku tua kerap “mengubek-ubek” bursa-bursa semacam itu. Di sana Anda akan berbaur dengan pegawai kantoran dan ibu-ibu yang mencarikan buku untuk anaknya. Tak jarang yang sudah bergelar doktor pun menjadi pelanggan pusat buku murah.

Kalau kebetulan Anda kuliah di Yogya, tak sulit menemukan tempat-tempat penjualan buku murah. Tempat-tempat seperti itu menjamur seperti halnya menjamurnya rumah kos. Yang terkenal ialah Shopping Center. Jangan bayangkan center yang satu ini berupa bangunan mewah layaknya mal untuk belanja segala macam kebutuhan. Terletak di Jalan Senopati, ujung selatan Jalan Malioboro, di sana berdiri puluhan kios yang menjajakan buku murah. Buku murah bukan berarti buku bekas, tapi buku baru dengan harga lebih murah ketimbang yang dijual di toko buku besar.

Begitu turun dari bus kota di depan pintu masuk Shopping Center, pemandangan itu akan menyambut kehadiran Anda. Sesak dan padat, begitu kesannya. Tapi justru itulah seninya. Anda “belum sah” menjadi mahasiswa Yogya sebelum menyusuri kios-kios buku di Shopping.

Di Kota Gudeg, selain di Shopping, ada pula penjual yang menjajakan buku ala pedagang kaki lima. Mereka membawa mobil pikap dan keliling ke kampus-kampus. Pilihan lain adalah kompleks kios buku murah di Jalan Prof Kahar Muzakir, di depan kampus Universitas Islam Indonesia, Terban, Yogyakarta. Fahriza terkadang menyambangi toko buku Social Agency atau Toga Mas, yang memang menawarkan diskon seperti di Shopping. "Dibanding Gramedia, Social Agency dan Toga Mas memang sedikit lebih murah. Jadi saya kadang ke sana, siapa tahu ada buku yang menarik," kata wong kito itu.

Medan punya cerita tak jauh berbeda. Titi Gantung, sebutan terkenal untuk tempat bursa buku murah di kota itu. Terletak di sepanjang penyeberangan rel kereta api stasiun Kota Medan, bursa buku ini sudah menjadi nadi buku Kota Medan sejak akhir 1990-an.

Karena alasan ketertiban kota, pada 2003 Titi Gantung berpindah ke pinggiran Lapangan Merdeka Medan, 500 meter dari tempat semula. Lokasi kios buku terletak di sisi barat Lapangan Merdeka, tepatnya di depan stasiun kereta api Kota Medan. Sejak pindah, ada yang menyebutnya bursa buku murah Lapangan Merdeka, tapi ada pula yang masih lekat dengan sebutan lama, Titi Gantung. Tak penting soal sebutan, yang penting tempatnya mudah dijangkau: hampir 15 jenis angkutan kota melewati kawasan itu. Lebih penting lagi, Anda bisa mendapatkan buku-buku yang relatif lebih murah di sana.

Anda akan mendapati kios-kios buku berukuran 3x2 meter. Tak apalah buku-buku tampak berdesakan di dalam kios. Tempat ini buka mulai pukul 08.00 hingga sore hari. Di awal tahun ajaran baru, pusat buku murah di jantung kota Medan ini semakin ramai. Keuntungan macam apa sih yang bisa kita dapat di Titi Gantung? Untuk lebih jelasnya, coba simak penuturan salah seorang penjual buku, M. Simanjuntak, 50 tahun.

Buku-buku yang dijual di kiosnya—juga kios-kios lain di Titi Gantung—kondisinya bervariasi. Ada yang baru, masih dibungkus plastik; ada juga buku teks yang sudah memudar warnanya. Perbedaan harga dengan yang dijual di Gramedia maupun toko buku besar lainnya bisa mencapai 20-25 persen. Adapun buku lama dijual antara Rp 5.000 sampai puluhan ribu. Bahkan ada buku tua terbitan 1955, berjudul Medical Psychology, dijual cuma dua ribu perak.

Seperti juga di Yogya, kenapa buku baru di sini bisa dijual lebih murah? “Kita mendapat potongan harga 20-30 persen. Dan kita mengambil untung tidak banyak. Paling sekitar 10 persen,” tutur Simanjuntak. Para pedagang buku di Shopping Center maupun komplek kios buku Terban, Yogya, lazimnya juga mengambil keuntungan 5 sampai 10 persen dari harga jual. "Biasanya dari penerbit atau distributor kita mendapat diskon hingga 40 persen, kemudian kita jual dengan diskon antara 30 sampai 35 persen," kata Supardi, penjual buku di Terban, Yogya.

Di kota-kota lain juga terdapat pusat buku murah semacam di Yogya dan Medan. Kalau Anda kuliah di Bandung, Anda akan mengenal nama Palasari dan Pasar Suci. Di tempat itulah para mahasiswa dan pelajar serta masyarakat umum di Bandung mencari buku-buku dengan harga lebih miring. Begitu pula kalau Anda memilih kampus di Jakarta sebagai tempat menimba ilmu, Anda bisa menemukan sentra-sentra buku murah di kawasan Senen, antara lain Kwitang, Kramat Lima, dan sebelah terminal Senen.

Buku murah bisa pula berarti buku bekas. Tapi, namanya buku, yang bekas pun ada manfaatnya. Bahkan kadang yang bekas bisa selangit harganya lantaran nilai historis dan sudah tidak dicetak lagi. Nah, kalau kebetulan Anda nanti diterima di salah satu perguruan tinggi di Surabaya, ada baiknya sekali-kali jalan-jalan ke Jalan Semarang, tepatnya di depan Stasiun Kereta Api Pasar Turi. Di sana akan Anda temukan deretan kios-kios penjual buku-buku bekas. Tak kurang ada 40 pedagang buku bekas, yang masing-masing memiliki kios berukuran 2x1 meter.

Buku-buku kuliahan di sana cukup beragam. Ada Kapita Selekta Kedokteran, Obstetri Patologi, Obstetri Fisiologi, Manajemen Dasar-Dasar Akuntansi, dan lain-lain. Tidak sulit menjangkau pusat buku murah Jalan Semarang. Kita bisa naik angkutan jalur N (Bratang-Jembatan Merah), BP (Balong Panggang-Pasar Turi), atau semua jurusan bus kota yang lewat Tugu Pahlawan. Dari Tugu Pahlawan, Anda tinggal jalan kaki ke arah barat menuju Jalan Semarang.

Masih di Surabaya, selain Jalan Semarang, Pasar Blauran tak cuma dikenal sebagai pusat jajanan khas Surabaya, tapi juga menjadi referensi penjualan buku harga miring di Surabaya. Bedanya, di Blauran, yang dijual buku-buku baru dengan harga diskon. Adapun di Jalan Semarang, bisa jadi buku yang Anda beli sudah banyak coretan dari yang empunya semula.

Untuk membeli buku di pusat buku murah pun, termasuk buku baru, ada baiknya mengingat anjuran ‘teliti sebelum membeli’. Para calon pembeli umumnya mensurvei harga buku terlebih dahulu sebelum pergi ke sentra buku murah. Dengan demikian, calon pembeli bisa tahu bila penjual menaikkan harga dulu baru mendiskon. Lebih penting lagi, pembeli bisa menghitung sendiri berapa diskonnya. Lebih murah 20 persen ketimbang di toko buku, angka yang lumayan kan?

#9 [url]

May 17 07 12:36 AM

Sarjana Jalur Cepat

Cepat selesai kuliah, yang berarti menghemat biaya dan waktu, hampir pasti menjadi cita-cita setiap mahasiswa. Namun ini bukan perkara mudah. Perlu tekad besar, disiplin tinggi, dan ulet. Bahkan, mesti siap dituding “kurang gaul”. Tak ada kiat yang cespleng, tapi ada baiknya bila Anda menakik pengalaman para lulusan jalur cepat berikut ini.

Seorang calon sarjana strata satu (S1) harus menyelesaikan 144–160 SKS (satuan kredit semester). Batasan waktu kuliah cuma delapan semester (empat tahun) hingga 14 semester (tujuh tahun). Nah, untuk menembus batas waktu itu, kunci pertama yang bisa dipakai, menurut Ardianto, 24 tahun, ialah “Kenalilah diri dan kemampuan diri, dan buatlah belajar menjadi sebuah kesenangan.’’

Pemuda asal Klaten, Jawa Tengah, yang akrab dipanggil Biang, ini mengaku mampu menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tepat waktu tanpa meninggalkan pergaulan. Kegiatan sebagai aktivis memang sudah ia jalani sejak SMA. Ia sempat tak lolos seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) pada 1998. “Saya tidak serius mempersiapkan diri,” ujarnya sembari tertawa.

Baru tahun berikutnya Biang menggenjot semangatnya untuk ikut UMPTN, dan berhasil. Ternyata bekal sebagai aktivis berpengaruh positif bagi kuliahnya. ‘’Malah match,’’ katanya bersemangat. Bagaikan mobil yang tak pernah kekeringan bensin dan oli, Biang ngebut menyelesaikan kuliah dalam tempo delapan semester. Ia juga Juara II pada PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) 2001, juara di LKTI Hukum yang diselenggarakan Universitas Indonesia 2002, dan Juara Harapan Lingkungan yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Tinggi bersama Kementerian Lingkungan Hidup.

Santi Susanti meraih keberhasilan dengan cara agak berbeda. “Saya dibiayai kakak, jadi kuliah tak boleh lama-lama. Saya harus tahu diri, ingin cepat lulus,” ujar dosen di Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP), Universitas Jember, Jawa Timur, ini tentang motivasinya. Santi mengaku tak banyak waktu untuk kegiatan luar kelas. Santi men-cuekin segala risiko dicap sebagai mahasiswa yang ‘kurang gaul’. “Saya sampai tak punya waktu main,” kenangnya.

Pola belajar yang dilakoni Santi sebenarnya cukup sederhana. Setiap ada kesempatan mengambil SKS maksimal, 24 SKS untuk semester berikutnya, disabetnya. Ia baca bahan kuliah berulang-ulang dan meringkasnya—tidak mesti persis plek dengan paparan dosen. Mata kuliah lintas jurusan juga diambilnya. “Saya harus lulus mata kuliah tersebut,” begitu ia bertekat waktu itu. Terbukti, mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini lulus putine laude pada 1996 dalam waktu tiga tahun delapan bulan.

Target cepat selesai ditetapkan Santi semata-mata karena kondisi ekonomi keluarganya. Ayahnya, lulusan SMP, dan ibunya, lulusan Pendidikan Guru Agama, melimpahkan tanggungjawab pendidikan Santi kepada kakak yang sudah berkeluarga. “Saya tahu betul bagaimana kakak membiayai saya,” katanya.

Wanita yang kini dosen ini memberikan kiat sukses ngebut kuliah dengan biaya yang serba irit: dengan mengelola waktu dan biaya seefisien mungkin. Waktu istirahat harus cukup. Baca bahan kuliah harus dicicil. “Jangan sistem kebut semalam,” anjurnya. Selain kuliah di Unpad, Santi waktu itu juga mengambil kuliah Bahasa Jerman di di IKIP Bandung, tapi tidak selesai. ”Faktornya ya ekonomi,” kata Santi menyebut kendalanya.

Kuliah zaman sekarang memang memberi kesempatan bagi mahasiswa yang ingin cepat selesai. Sebaliknya, bagi yang mau berlambat-lambat harus siap terkena penalti drop out. SKS tak kenal istilah “mahasiswa abadi”. Dimulai sejak 1980-an pada perguruan tinggi negeri, sistem SKS ini kemudian diberlakukan pada perguruan swasta. Ini membuka kesempatan pada mahasiswa cerdas dan rajin untuk menyelesaikan studinya secepat mungkin.

Anda tinggal pilih: jalur lambat, yang boros waktu dan biaya, atau jalur cepat yang hemat waktu dan biaya?

#10 [url]

May 17 07 12:42 AM

Untung-rugi Mengikuti Tes Bakat
R. Matindas

Banyak lulusan SMU yang bingung ketika harus menentukan fakultas pilihannya. Umumnya mereka tidak tahu harus melanjutkan ke mana setelah lulus. Tapi mereka sadar bahwa salah pilih bisa membawa akibat fatal. Drop-out (DO) di tengah jalan harus dihindari, supaya waktu dan biaya yang sudah keluar tidak sia-sia. Harus juga dihindari adanya pukulan mental yang bisa mempengaruhi kepercayaan diri dalam menghadapi masa depan. Itu sebabnya, dalam membuat keputusan mengenai jurusan yang tepat dibutuhkan sebanyak mungkin informasi. Salah satu di antaranya adalah informasi mengenai bakat yang dimiliki.

Untuk mengetahui bakat, kebanyakan orang mengandalkan tes psikologi yang lebih dikenal sebagai tes bakat. Namun ada baiknya menyadari bahwa tes bakat, seperti hampir semua hal lain di dunia, punya sisi positif dan negatifnya. Jika dilakukan oleh penyelenggara yang kompeten dan sesuai dengan prosedur yang seharusnya, tes bakat pendidikan tinggi punya banyak manfaat. Sebaliknya, jika dilaksanakan oleh pihak yang kurang bertanggung jawab, tes ini bisa memberi pengarahan yang keliru. Agar tes bakat tidak dianggap obat-sakti yang bisa mengatasi semua masalah dalam pemilihan jurusan, dan agar manfaatnya dapat ditingkatkan serta bahayanya bisa dikurangi, di bawah ini ada sejumlah catatan yang sebaiknya menjadi bahan pertimbangan.

1. Tes bakat bukan ujian!

Pernyataan ini perlu digarisbawahi agar peserta tidak menghadapi tes bakat seperti ketika akan menghadapi ujian. Mengingat tes bakat bukan ujian, maka hasil tes bakat bukanlah lulus atau gagal. Jadi, hasil tes bakat tidak boleh diterima dengan perasaan kecewa, walaupun hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Jangan mengulangi tes bakat agar hasilnya lebih cocok. Sebaliknya, hasil tes bakat harus dilihat sebagai petunjuk untuk membuat pilihan langkah ke masa depan.

Dengan pemahaman seperti di atas, reaksi yang paling tepat di saat menerima hasil tes bakat adalah bertanya lebih jauh tentang hasil yang disampaikan. Jangan menebak apa arti nilai-nilai tes bakat, tanyakan hal itu kepada pihak penyelenggara tes.

2. Jangan berbohong pada waktu tes.

Sebagai evaluasi psikologis, tes bakat harus dihadapi bukan sebagai ujian yang berakhir dengan sukses atau gagal. Diperlukan keterbukaan untuk memberi sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan psikolog dalam membuat kesimpulan yang sesuai dengan kenyataan. Psikolog yang memeriksa Anda bukan paranormal. Dalam banyak hal, ia bergantung pada kejujuran Anda, khususnya ketika Anda ditanyai tentang kebiasaan dan minat Anda. Juga ketika Anda ditanyai tentang lingkungan kehidupan Anda. Informasi yang Anda berikan diperlukan untuk bahan pertimbangan mengenai bidang pendidikan yang sesuai dengan Anda. Perlu Anda ketahui bahwa keberhasilan belajar tidak semata tergantung pada kecerdasan.

Anda juga diharapkan berterus terang mengenai hal-hal yang masih Anda ragukan. Jangan sungkan mengungkapkan hal-hal yang biasanya membuat Anda bosan maupun hal-hal yang sangat Anda sukai. Di samping itu, jangan belajar secara khusus untuk menghadapi tes bakat. Berlatih pada soal-soal tertentu (dan tidak berlatih pada jenis soal lain) bisa membuat Anda terkesan menonjol pada bidang yang sebenarnya bukan bakat khusus Anda. Jadi, hadapi tes bakat tanpa persiapan khusus, kecuali menjaga kesegaran fisik.

3. Hati-hati pada penipuan.

Tidak semua penyelenggara tes dapat dipercaya. Ada pihak-pihak yang menyelenggarakan tes demi tujuan komersial belaka. Saran yang mereka berikan harus sangat diragukan. Untuk memeriksa apakah penyelenggara adalah tenaga ahli yang punya izin untuk menyelenggarakan tes bakat, tanyakanlah izin praktek penyelenggara tes. Kalau Anda meragukan keaslian surat izin praktek yang ditunjukkan pihak penyelenggara, catat nomor izinnya lalu hubungi Himpsi (Himpunan Sarjana Psikologi Indonesia). Nomor telepon Himpsi dengan mudah dapat ditanyakan ke kantor penerangan (bila ditulis di sini, khawatir nomornya satu waktu diganti).

Cara lain untuk menguji penyelenggara tes bakat adalah dengan bertanya kepada teman-teman (kakak kelas) yang pernah mengikuti tes di tempat itu tahun-tahun sebelumnya. Tanyakan berapa lama waktu penyelenggaraan tes. Jika tes diselenggarakan kurang dari 4 jam, Anda punya alasan kuat untuk mencurigai penyelenggara tes. Pengenalan mendalam tentang bakat seseorang tidak dapat diperoleh dalam waktu kurang dari 4 jam.

4. Test bakat yang Anda ikuti mungkin tidak komplet.

Sama dengan tes kesehatan, tes psikologi juga bermacam-macam. Ada tes yang hanya untuk melihat kecerdasan umum, dan ada yang untuk mengungkap hal-hal yang lebih rinci. Jika Anda hanya diperiksa dokter 5 menit lalu sang dokter bisa menceritakan seluruh riwayat penyakit Anda, besar kemungkinan dokter itu keturunan dukun. Untuk membuat laporan kesehatan yang lengkap, dokter memerlukan bantuan hasil analisis laboratorium. Psikolog pun demikian. Untuk membuat kesimpulan yang akurat, psikolog membutuhkan sejumlah data. Data itu berasal dari tes yang harus diikuti klien. Jadi, jika Anda hanya mengikuti tes selama dua jam, tapi laporannya sangat lengkap, Anda layak meragukan profesionalitas penyelenggara tes bakat tersebut.

5. Lengkapi tes bakat dengan tes kepribadian.

Seringkali tes bakat hanya memberi informasi mengenai segi kecerdasan. Padahal, keberhasilan ditentukan oleh banyak sekali faktor. Jadi ada baiknya Anda melengkapi diri dengan tes kepribadian, yang memberikan informasi tentang minat Anda dan tipe pekerjaan yang cocok untuk Anda. Ingat, tipe pekerjaan tidak seratus persen sama dengan bidang pendidikan. Sebagai contoh, lulusan fakultas pertanian tidak selalu jadi petani. Mereka bisa menjadi peneliti bidang pertanian, bisa menjadi analis kredit (bekerja di bank) yang menilai layak-tidaknya proposal usaha (di bidang pertanian) yang diajukan calon nasabah, dan juga bisa menjadi direktur perusahaan yang bergerak di bidang pertanian. Persamaannya, mereka semua ahli mengenai “teori” pertanian. Bedanya, teori itu mereka gunakan di bidang kerja yang beragam. Jadi, walaupun misalnya Anda tidak senang berkebun, belum tentu Anda tidak mampu menguasai teori-teori pertanian. Selain itu, walaupun Anda senang menyanyi, belum tentu fakultas seni suara adalah bidang pendidikan yang paling sesuai untuk Anda.

6. Minta kesempatan mendiskusikan hasil tes bakat.

Hasil tes bakat tidak gampang ditafsirkan oleh orang yang tidak ahli. Ada baiknya setelah mendapatkan hasilnya, Anda konsultasikan hasil itu dengan psikolog yang menyelenggarakan tes. Psikolog itulah yang paling tahu tentang maksud laporan yang dibuatnya. Menanyakan laporan seorang psikolog kepada psikolog lain punya kemungkinan bias. Soalnya, tidak semua psikolog menggunakan alat tes dan bentuk laporan yang sama. (Sejumlah tes psikologi dilindungi hak cipta dan tidak bisa digunakan sembarang psikolog tanpa membayar royalti).

Dalam berkonsultasi, ungkapkan ciri-ciri kepribadian Anda yang mungkin sekali tidak tergali lewat psikotes. Psikolog harus sangat mengenal Anda agar dapat membuat perhitungan yang akurat. Kalau misalnya Anda sangat dekat dengan nenek Anda dan Anda sering cemas karena belakangan ini beliau agak sakit-sakitan, jangan rahasiakan hal itu pada psikolog. Dia perlu tahu bahwa jika Anda bersekolah di tempat yang jauh, Anda mungkin menderita gangguan konsentrasi.

7. Lengkapi tes bakat dengan informasi tentang masa depan.

Jangan pernah lupa bahwa Anda bersekolah untuk masa depan. Di masa itu barangkali ada banyak perbedaan dengan masa kini. Pernah ada saatnya Indonesia membutuhkan banyak sekali tenaga perbankan. Waktu itu jumlah bank memang sangat banyak. Setelah krisis moneter, keadaannya menjadi sangat berbeda. Mereka yang telanjur masuk sekolah perbankan dengan harapan punya lapangan kerja yang luas kini menjadi tenaga ahli yang harus bersaing ketat untuk mendapat pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.


8. Tes bakat tidak kenal kondisi perguruan tinggi.

Hasil tes bakat baru sebagian dari informasi yang dibutuhkan untuk bahan pertimbangan dalam memilih jenjang pendidikan lanjutan. Hasil tes itu secara umum mengindikasikan tingkat kecerdasan umum Anda serta kelemahan dan kekuatan Anda di bidang-bidang tertentu. Kecerdasan umum memberikan informasi mengenai jenjang pendidikan yang mungkin Anda selesaikan tanpa kesulitan. Jika kecerdasan umum Anda luar biasa, Anda diramalkan mampu menyelesaikan pendidikan tingkat S3. Sebaliknya, jika kecerdasan umum Anda relatif rendah, mungkin untuk lulus SMU pun Anda perlu berkerja keras.

9. Pahami perbedaan mutu antarperguruan tinggi.

Sehubungan dengan hal ini, Anda perlu paham bahwa di Indonesia (dan juga di seluruh dunia) ada perbedaan yang nyata antara mutu suatu perguruan tinggi dan mutu perguruan tinggi lainnya. Perbedaan mutu ini sangat berkaitan dengan tingkat kecerdasan umum yang dituntut oleh perguruan tinggi tertentu. Selain itu, di perguruan tinggi yang sama, masih mungkin ada perbedaan yang besar antara satu fakultas dan fakultas lainnya. Bahkan di fakultas yang sama pun masih ada kemungkinan jurusan tertentu jauh lebih sulit dibandingkan dengan jurusan lainnya.

Adanya perbedaan tingkat kesulitan ini menyebabkan mahasiswa yang mungkin gagal di universitas peringkat satu (yang menuntut kecerdasan umum yang tinggi) biasanya masih mampu lulus di universitas peringkat dua atau universitas peringkat tiga.

Sulitnya, penyelenggara tes bakat tidak selalu tahu tingkat kesulitan yang ada di tempat-tempat tertentu. Beberapa psikolog memang melengkapi dirinya dengan informasi mengenai beberapa perguruan tinggi, tapi pasti tidak mengenai semua perguruan tinggi. Di samping itu, tiap tahun selalu ada fakultas baru atau program diploma baru.

Salah satu cara untuk menilai tingkat kesulitan suatu perguruan tinggi (termasuk fakultas dan jurusannya) adalah dengan menyelidiki prestasi “kakak kelas” dari sekolah Anda yang kuliah di perguruan tinggi tersebut.

10. Jangan ikut tes bakat di akhir kelas 3 SMA.

Ada kegiatan yang bersifat musiman. Bila Anda mengikuti tes pada musim tes, Anda akan diperiksa secara asal-asalan. Soalnya, dalam saat yang bersamaan, penyelenggara harus memeriksa banyak sekali peserta tes. Bila pekerjaan banyak, biasanya ketelitian menurun. Jadi, cobalah ikut tes ketika sedang tidak musim. Di situ Anda diperlakukan secara istimewa, sama seperti pengunjung restoran yang datang pada saat tamu hanya sedikit. Itu sebabnya Anda lebih baik tidak ikut tes bakat yang diselenggarakan secara masal oleh sekolah.

Di samping itu perlu diingat bahwa dibutuhkan waktu yang panjang untuk menguji kebenaran hasil tes. Jika Anda mengikuti tes di kelas satu SMA, Anda punya waktu menguji kebenaran hasil tes selama dua tahun sebelum Anda harus memilih perguruan tinggi. Jadi, jika memang mau mengikuti tes bakat, jangan tunggu sampai akhir kelas tiga SMA.

11. Ikut atau tidak ikut tes bakat?

Tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini. Tapi, jika Anda bersedia mempertimbangkan semua hal yang telah diajukan di atas, Anda disarankan untuk ikut, dengan catatan jangan di akhir kelas 3 SMA. Dengan mengikuti tes bakat dan memperlakukannya bukan sebagai ujian, Anda punya kesempatan mendapatkan bahan pertimbangan yang sangat bermanfaat untuk menentukan langkah ke masa depan. Dengan mengikuti evaluasi psikologis yang lengkap Anda juga mungkin menemukan banyak hal tentang diri sendiri, termasuk hal-hal yang penting diketahui meskipun tidak langsung berkaitan dengan pemilihan karir pendidikan maupun pekerjaan.

#11 [url]

May 17 07 12:50 AM

Glosari Dunia Kampus

Beban Studi:

Jumlah satuan kredit semester (SKS) yang wajib diperoleh mahasiswa selama masa studi.

Cuti Akademik:

Izin yang diberikan dekan atas nama rektor kepada mahasiswa untuk tidak mengikuti kegiatan akademik karena alasan tertentu. Maksimal pemberian cuti ini dua semester berturut-turut. Cuti (atau berhenti sementara kuliah) dapat diambil sebanyak dua kali selama masa studi.

Alasan mengajukan cuti akademik:

· Faktor kesehatan --dinyatakan dengan surat keterangan dokter.

· Kesulitan ekonomi--dinyatakan dengan surat pernyataan dari orang tua dan diperkuat oleh pejabat yang berwenang (kepala desa/lurah dan camat).

· Alasan yang relevan.

Permohonan cuti akademik disampaikan secara tertulis kepada dekan dengan persetujuan ketua jurusan/ketua program studi/ketua bagian.

Dekan:

Dosen tenaga pendidik di perguruan tinggi yang diangkat dengan tugas khusus mengajar dan mengepalai fakultas.

Dosen:

Tenaga pengajar di perguruan tinggi dengan tugas utama mengajar, membimbing dan atau melatih mahasiswa dalam melakukan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat.

Dosen Tetap: Dosen yang diangkat dan ditempatkan sebagai tenaga tetap pada perguruan tinggi yang bersangkutan, termasuk dosen penugasan Kopertis dan dosen yayasan pada perguruan tinggi swasta dalam bidang yang relevan dengan keahliannya.

Dosen Tidak Tetap: Dosen yang pengangkatannya bukan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan –misalnya dosen luar biasa, dosen pembina, dosen pinjaman, dosen kontrakan.

Dosen Pembimbing/Penasihat Akademik (PA):

Dosen yang mempunyai tugas mendampingi dan memberikan konsultasi akademis kepada mahasiswa selama masa kuliah.

Jenis konsultasi yang diberikan, antara lain:

· Menyusun rencana studi dan pertimbangan dalam memilih mata kuliah yang akan diambil untuk semester yang akan berlangsung.

· Memberikan pertimbangan tentang banyaknya kredit yang dapat diambil mengikuti perkembangan studi mahasiswa yang dibimbingnya.

Fakultas:

Unsur pelaksana akademik bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam satu cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau kesenian tertentu. Fakultas dipimpin oleh seorang dekan. Sementara itu, unsur pelaksanaan akademik di fakultas adalah jurusan dan laboratorium.

Gelar Akademik:

Sebutan profesi yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi, dicantumkan pada ijazah yang bersangkutan. Selain gelar akademik, pada ijazah juga dicantumkan nama fakultas, program studi, dan tanggal lulus secara lengkap.

Indeks Prestasi Kumulatif (IPK):

Nilai keseluruhan mahasiswa dari beban studi yang diambilnya, dengan batas minimal 144 SKS. IPK sekaligus digunakan untuk predikat kelulusan seorang mahasiswa yang bersangkutan.

Indeks Prestasi Semester (IPS):

Tingkat keberhasilan seorang mahasiswa dalam suatu program semester. Cara mengukur IP: jumlah nilai kredit mata kuliah yang diambil dikalikan dengan bobot masing-masing mata kuliah dibagi dengan jumlah nilai kredit mata kuliah.

Jurusan:

Unsur pelaksana pada akademi, politeknik, sekolah tinggi atau fakultas yang melaksanakan pendidikan akademik dan/atau profesional dalam satu atau seperangkat cabang ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian tertentu. Jurusan dipimpin oleh ketua jurusan--dipilih dari tenaga pengajar (dosen) dan bertanggung jawab langsung kepada dekan. Dalam tugas sehari-harinya, ketua jurusan dibantu oleh sekretaris jurusan.

Kalender Akademik:

Jadwal yang disusun oleh rektor dalam kurun satu tahun kegiatan akademik di kampus yang memuat waktu penerimaan mahasiswa, masa perkuliahan, penyelenggaraan ujian, maupun hari-hari libur. Jadwal ini berlaku dan harus dipatuhi oleh seluruh fakultas dan unit-unit pelaksananya.

Kartu Rencana Studi (KRS):

Kartu isian yang berisi rencana banyaknya Satuan Kredit Semester (SKS) yang diprogram untuk semester mendatang, dilakukan pada setiap awal semester, dengan memperhitungkan Indeks Prestasi (IP) pada semester sebelumnya. Perolehan IPS (Indeks Prestasi Semester) ini dapat mempengaruhi jumlah SKS yang akan diambil. Pengisian KRS dilakukan oleh mahasiswa bersama dengan Dosen PA (Pembimbing Akademik).

Contoh perhitungan IP pada Institut Pertanian Bogor (IPB). Jika IP: 2.76, beban studi maksimal yang dapat diambil 25 SKS. Jika kurang dari 2.00, beban studi maksimalnya 19 SKS.

Kartu Hasil Studi (KHS):

Kartu yang memuat hasil studi setiap mahasiswa per semester.

Kartu Tanda Mahasiswa (KTM):

Kartu yang diberikan kepada mahasiswa yang sudah menyelesaikan registrasi administrasi secara lengkap. Kartu ini juga sebagai tanda bukti bahwa yang bersangkutan sudah terdaftar pada sebuah perguruan tinggi.

Karya Tulis:

Karya ilmiah untuk pelengkap atau penunjang mata kuliah tertentu sebagai pendukung tugas akhir yang berupa skripsi.

Kegiatan Kurikuler:

Kegiatan akademik yang meliputi kuliah, pertemuan kelompok kecil (seminar, diskusi), bimbingan penelitian, praktikum, tugas maupun belajar mandiri, penelitian maupun pengabdian masyarakat. Misalnya: kuliah kerja nyata maupun kerja lapangan.

Kegiatan Ekstrakurikuler:

Kegiatan kemahasiswaan yang meliputi penalaran dan keilmuan, minat maupun kegemaran, upaya perbaikan kesejahteraan dan bakti sosial bagi masyarakat. Misalnya: Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) olahraga, kesenian daerah, Palang Merah Mahasiswa, klub studi, Pramuka Mahasiswa.

Kuliah Kerja Nyata (KKN):

Kegiatan kurikuler dijalankan di luar kampus (di masyarakat), dan wajib diikuti semua mahasiswa.

Kurikulum Inti (di Perguruan Tinggi):

Bagian dari kurikulum pendidikan tinggi yang berlaku secara nasional untuk setiap program studi (tujuan, isi, dan kemampuan minimum) yang harus dicapai peserta didik dalam menyelesaikan program studi.

Kurikulum Lokal (di Perguruan Tinggi):

Bagian dari kurikulum pendidikan tinggi yang berkenaan dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan tempat perguruan tinggi itu berada.

Masa studi:

Waktu yang sudah dibakukan untuk menempuh jenjang pendidikan di perguruan tinggi. Masa studi dapat diperpanjang dengan mengajukan permohonan izin kepada Dekan dengan alasan yang sah sesuai dengan peraturan. Antara lain: mahasiswa yang sudah menyelesaikan studi lebih dari 14 semester, perpanjangan studi maksimal untuk 2 (dua) semester dihitung sejak tanggal masa berakhirnya masa 14 semester. Berikut masa studi jenjang program Sarjana, Pascasarjana dan Spesialis:

1.Program Pendidikan Sarjana atau Strata 1 (S1):

· Jumlah SKS: 144-160.

· Lama studi: 8-14 semester.

2.Program Magister atau Strata 2 (S2)/Program Pascasarjana:

· Jumlah SKS: 180-194 (atau 36-50 SKS setelah menyelesaikan jenjang S1).

· Lama studi: 12-18 semester.

3.Program Strata 3 (S3), atau Program Doktor:

· Jumlah SKS: 220-233 (atau minimal 40 SKS setelah menyelesaikan jenjang Magister).

· Lama studi: 16-22 semester.

4.Program Spesialis 1 (Sp1):

· Jumlah SKS: 40-50.

· Lama studi: 4-6 semester.

· Peserta sudah menyelesaikan Program D4.

5.Program Spesialis 2 (Sp2):

· Jumlah SKS: 40-50.

· Lama studi: 4-6 semester.

· Peserta sudah meyelesaikan Program Sp1 dan S2.

Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK):

Kelompok bahan kajian dan pelajaran yang ditujukan terutama untuk memberikan landasan pembentukan keahlian, baik untuk kepentingan profesi maupun bagi pengembangan ilmu dan teknologi.

Mata Kuliah Pilihan:

Mata kuliah dari kelompok MKK (Mata Kuliah Keahlian) untuk melengkapi pembentukan keahlian program studi seorang mahasiswa.

Mata Kuliah Umum (MKU):

Kelompok bahan kajian dan pelajaran dalam kurikulum program sarjana yang diasumsikan bisa membentuk kepribadian dan sikap mahasiswa untuk memasuki kehidupan bermasyarakat.

Mata Kuliah Wajib:

Mata kuliah yang membentuk kualitas profesional seorang lulusan perguruan tinggi. Mata kuliah ini terdiri dari: MKDK (Mata Kuliah Dasar Keahlian) dan MKK (Mata Kuliah Keahlian). Mata kuliah ini harus diikuti oleh semua mahasiswa dan wajib lulus.

Perguruan Tinggi:

Satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi yang berbentuk akademi, institut, politeknik, sekolah tinggi atau universitas.

Akademi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan profesional dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, atau kesenian tertentu. Contoh: Akademi Sekretaris, Akademi Bahasa Asing.

Institut: satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesional dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian yang sejenis. Contoh: Institut Pertanian Bogor, Institut Kesenian Jakarta.

Politeknik: satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan profesional dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus. Contoh: Politeknik Perkapalan, Politeknik Kesehatan

Sekolah Tinggi: satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesional dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu. Contoh: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, Sekolah Tinggi Filsafat.

Universitas: satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau profesional dalam sejumlah disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian tertentu.

Praktek Kerja Lapangan (PKL):

Kegiatan untuk mendapatkan pengalaman ilmu pengetahuan dan teknologi dengan membandingkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan yang terjadi di lapangan --semisal di perusahaan, industri maupun lembaga pemerintah. Laporan hasil PKL dapat digunakan untuk bahan penulisan skripsi

Praktikum:

Salah satu metode pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman maupun keterampilan mahasiswa. Pelaksanaannya dapat di laboratorium atau di luar laboratorium, tergantung jenis praktikumnya.

Predikat Kelulusan:

Pernyataan tentang hasil ujian. Terdiri atas tiga tingkat: memuaskan, sangat memuaskan, dan putine laude (dengan pujian) yang dinyatakan pada transkrip akademik. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) menjadi dasar acuannya.

· IPK: 2,00 - 2,75 = Memuaskan

· IPK: 2, 76 - 3,50 = Sangat memuaskan

· IPK: 3, 51 - 4,00 = putine laude (Dengan Pujian).

Predikat putine laude ditentukan dengan memperhatikan masa studi maksimum, 3, 5 tahun (7 semester).

Program Akta Mengajar:

Program khusus untuk mendapatkan sertifikat layak mengajar, baik sertifikat untuk mengajar salah satu bidang studi atau sertifikat yang menunjukkan kemampuan mengajar sebagai guru kelas.

1. Program Akta 1 (A1)

· Jumlah SKS: 20.

· Lama studi: 2-4 semester.

· Syarat Peserta: lulusan D1, atau mahasiswa dengan tabungan 20 SKS dalam bidang studi nonkependidikan tertentu.

· Sertifikat A1 memberikan kewenangan mengajar di sekolah dasar, dan sekolah menengah tingkat pertama sesuai dengan bidang studi yang diambil.

2. Program Akta 2 (A2)

· Jumlah SKS: 20.

· Lama studi: 2-4 semester.

· Syarat Peserta: lulusan D2 kependidikan, atau mahasiswa dengan tabungan 60 SKS bidang studi nonkependidikan tertentu.

· Sertifikat A2 memberikan kewenangan mengajar di sekolah tingkat pertama.

3. Program Akta 3 (A3)

· Jumlah SKS: 20.

· Lama studi: 2-4 semester.

· Syarat Peserta: lulusan D3 kependidikan, atau mahasiswa dengan tabungan 90 SKS di bidang studi nonkependidikan tertentu.

· Sertifikat A3 memberikan kewenangan mengajar di sekolah tingkat pertama atau sekolah menengah tingkat atas.

4. Program Akta 4 (A4)

· Jumlah SKS: 20.

· Lama studi: 2-4 semester.

· Syarat Peserta: lulusan S1 kependidikan atau mahasiswa dengan tabungan 124 SKS bidang studi nonkependidikan tertentu.

· Sertifikat A4 memberikan kewenangan mengajar di sekolah menengah tingkat atas.

5. Program Akta 5 (A5)

· Jumlah SKS: 20 .

· Lama studi: 2-4 semester.

· Syarat Peserta: lulusan S2 kependidikan, atau mahasiswa dengan tabungan 160 SKS bidang studi nonkependidikan tertentu.

· Sertifikat A5 memberikan kewenangan mengajar di perguruan tinggi.

Program Diploma:

Program khusus nongelar yang sertifikatnya juga menunjukkan si pemegang punya persyaratan mengajar bidang kependidikan maupun non-kependidikan.

1. Program Diploma 1 (D1)

· Jumlah SKS: 40-50.

· Lama studi: 2-4 semester.

2. Program Diploma 2 (D2)

· Jumlah SKS: 80-90.

· Lama studi: 4-6 semester.

3. Program Diploma 3 (D3)

· Jumlah SKS: 110-120.

· Lama studi: 8-14 semester.

4. Program Diploma 4 (D4)

· Jumlah SKS: 144-160.

· Lama studi: 8-14 semester.

Program Ekstensi:

Program pendidikan jenjang S1 yang penyelenggaraannya dilakukan diluar kegiatan program reguler. Kurikulumnya sama dengan program reguler. Misalnya, diselenggarakan pada sore hari.

Program Matrikulasi:

Program kuliah pengenalan dunia kampus, sistem perkuliahan, dan penyamaan persepsi ilmu pengetahuan. Lama kuliah biasanya satu hingga dua bulan yang diikuti oleh para mahasiswa baru mengawali tahun akademik yang akan berjalan.

Program Semester Pendek (SP):

Program perkuliahan yang dilaksanakan pada saat liburan semester genap. Tujuannya memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperbaiki nilai mata kuliah yang sudah ditempuhnya dalam rangka meningkatkan indeks prestasi kumulatif (IPK), memperpendek masa studi dan menghindari terjadinya putus studi.

Program Studi:

Kesatuan rencana belajar sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan akademik dan/atau profesional yang diselenggarakan atas dasar suatu kurikulum.


Rektor:

Pimpinan tertinggi di kampus sekaligus pejabat pembantu Menteri Pendidikan. Dalam tugas sehari-hari, rektor dibantu oleh 3 (tiga) atau sampai 4 (empat) pembantu rektor (purek).

· Purek I: Pembantu Rektor Bidang Akademik.

· Purek II: Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum.

· Purek III: Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan.

· Purek IV: Pembantu Rektor Bidang Kerjasama dan Hubungan Luar Negeri.

Registrasi Administrasi:

Kegiatan administratif guna memperoleh status terdaftar pada program studi yang dipilih untuk satu semester yang akan berjalan.

Registrasi Akademik:

Pendaftaran mahasiswa untuk memperoleh hak ikut kegiatan akademik pada fakultas/jurusan/program studi yang dipilih pada semester yang akan berjalan. Kegiatan ini meliputi:

· Pengisian dan pengesahan Kartu Rencana Studi (KRS).

· Pengisian Kartu Perubahan Rencana Studi.

· Pembatalan mata kuliah.

Sanksi Akademik:

Hukuman yang dijatuhkan rektor berdasarkan usulan dekan karena sebuah pelanggaran akademik kepada seorang mahasiswa. Misalnya: jika mahasiswa melakukan penjiplakan tugas akhir, rektor membatalkan kelulusannya. Sanksi atau pelanggaran akademik lainnya diatur dalam peraturan akademik fakultas.

Satuan Kredit Semester (SKS):

1. Untuk mahasiswa: Suatu takaran penghargaan terhadap pengalaman belajar yang diperoleh mahasiswa selama satu semester melalui kegiatan yang terjadwal per minggu sebanyak 1 (satu) jam perkuliahan atau 2 (dua) jam praktikum, atau 4 (empat) jam kerja lapangan. Masing-masing kegiatan ini diiringi sekitar 1–2 jam kegiatan akademik terstruktur, dan sekitar 1–2 jam kegiatan akademik mandiri. Satu SKS harus memenuhi 3 (tiga) unsur kegiatan akademik:

· Kegiatan akademik tatap muka: kegiatan belajar terjadwal yang berbentuk kuliah dan diskusi antara mahasiswa dan dosen.

· Kegiatan akademik terstruktur: kegiatan belajar yang tidak terjadwal tapi direncanakan dan di bawah pengawasan dosen. Misalnya: kegiatan pekerjaan rumah, diskusi kelompok.

· Kegiatan akademik mandiri: kegiatan belajar yang tidak terjadwal dan tidak direncanakan dosen, tapi wajib dilaksanakan mahasiswa secara mandiri. Misalnya, merangkum kembali beban kuliah, mempersiapkan bahan kuliah, mempersiapkan bahan diskusi.

2. Untuk dosen: Suatu takaran penghargaan beban kerja dosen dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi sebanyak 12 (dua belas) SKS per semester atau setara dengan 36 (tiga puluh enam) jam per minggu.

Semester:

Satuan waktu kegiatan selama sekitar 13 hingga 20 minggu kuliah, termasuk 2 sampai 3 minggu kegiatan penilaian. Kegiatan ini meliputi, antara lain, perkuliahan, ujian, praktikum, dan kegiatan laboratorium.

Sistem Kredit:

Cara penyelenggaraan pendidikan yang mengukur beban studi mahasiswa, beban kerja dosen, maupun penyelengara program dalam satuan kredit.

Sivitas Akademika:

Masyarakat perguruan tinggi yang terdiri dari dosen dan mahasiswa.

Skripsi:

Karya tulis ilmiah, sebagai laporan tugas akhir mahasiswa untuk memperoleh ijazah program strata satu (S 1). Dalam mengerjakan skripsi, mahasiswa mendapat bimbingan dari sebuah tim yang terdiri dari dosen pembimbing utama dan 2 (dua) dosen pembantu pembimbing.

Syarat seorang mahasiswa sudah boleh menulis skripsi, antara lain:

· Telah menempuh mata kuliah minimal 120 SKS.

· Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,0.

Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP):

Biaya pendidikan yang dibayarkan oleh mahasiswa untuk keperluan penyelenggaraan dan pembinaan pendidikan.

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM):

Satuan atau kelompok kegiatan mahasiswa yang sifatnya ekstrakurikuler. Kegiatan ini bisa bersifat seni, olahraga, atau yang lain. Contoh: UKM Pramuka, UKM seni tradisional, UKM Palang Merah Mahasiswa. Pelaksanaan UKM ada yang pada tingkat universitas, fakultas, maupun jurusan.

Ujian Pendadaran:

Ujian untuk menilai pengetahuan mahasiswa dalam bidang kejuruan sehubungan dengan penerapan ilmu yang telah diperolehnya.

Syarat menempuh ujian ini:

· Telah lulus semua ujian teori.

· Telah melaksanakan kerja praktek/KKN dan dinyatakan lulus.

· Telah lulus ujian seminar dan ujian skripsi.

Ujian Seminar:

Menyampaikan hasil penelitian dalam rangka pembuatan skripsi di hadapan forum peserta. Hasilnya sekaligus untuk perbaikan skripsi.

Syarat ikut ujian seminar, antara lain:

· Mendaftar dan mengajukan surat permohonan yang ditandatangani oleh dosen pembimbing.

· Menyerahkan abstraksi seminar kepada dosen pembimbing.

· Menyerahkan draft naskah skripsi hasil penelitian yang telah disetujui oleh dosen pembimbing.

Ujian Skripsi:

Ujian untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitian yang dituangkan dalam skripsi.

Wisuda:

Acara akademik berupa rapat terbuka dalam rangka penyerahan ijazah kepada lulusan. Ini boleh disebut sebagai puncak kegiatan mahasiswa.

Yudisium:

Penentuan nilai kelulusan suatu ujian sarjana lengkap.

#12 [url]

May 17 07 12:53 AM

Informasi Beasiswa

Bila di masa-masa yang lampau mencari beasiswa ibarat mencari intan di hamparan pasir, kini tawaran beasiswa tersedia begitu banyak. Ada cara mudah menelusuri lembaga pemberi beasiswa: dengan rajin bertanya kiri-kanan, memelototi iklan di media, maupun berselancar di internet.

Tentu saja, ini peluang bagi mahasiswa yang kiriman uang dari orangtuanya serba terbatas, sementara semangat belajar masih menggebu. Namun karena peminat beasiswa luar biasa banyak, mau tak mau Anda harus bersaing keras, termasuk dengan peminat yang orangtuanya mampu.

Bila demikian, apa kiatnya agar pencarian Anda membuahkan hasil? Persiapkan diri Anda sebaik-baiknya, terutama nilai Indeks Prestasi Akademik—parameter yang kerap menjadi pertimbangan pokok—harus bagus. Jika Anda berburu dengan ulet, jeli, dan cermat, niscaya usaha ini tidak akan sia-sia. Proses mendapatkan beasiswa tidak teramat sulit. Asal Anda memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan, peluang Anda lumayan besar.

Jadi, jika Anda benar-benar membutuhkan beasiswa, bergegaslah mencari alamat dan klik website lembaga pemberi beasiswa tersebut, dan hubungi contact person-nya. Banyak di antaranya yang memberi dana secara cuma-cuma, artinya begitu lulus dari perguruan tinggi, Anda tidak berkewajiban untuk bekerja pada pemberi beasiwa.

Berikut ini info singkat seputar beberapa jenis beasiswa:

BEASISWA PERTAMINA

Direktorat Manajemen Production Sharing (DMPS) adalah salah satu bagian dari Pertamina yang diberi tugas mengelola penyaluran beasiswa. Dana beasiswa dihimpun dari kontribusi para kontraktor, yang ditetapkan secara proporsional berdasarkan hasil produksi masing-masing. Ada dua jenis beasiswa yang ditetapkan oleh Dewan Konsorsium Pendidikan Pertamina-KPS, yaitu:

1. Beasiswa Dalam Negeri (BSDN)

Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa perguruan tinggi Indonesia, yang secara selektif diajukan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Komite BSDN menetapkan satu KPS sebagai Koordinator Daerah Operasi (KDO) untuk mengkoordinasi kegiatan BSDN di wilayahnya. Saat ini ada delapan KDO yang tersebar di seluruh Indonesia. KDO kemudian bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat untuk menyeleksi dan menetapkan mahasiswa yang akan memperoleh beasiswa berdasarkan kuota.

2. Beasiswa Beawiyata

Jenis beasiswa ini disalurkan untuk dosen dan/atau pegawai pemerintah daerah sebagai biaya penelitian guna melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana (S2, S3). Pemberian Beawiyata ini, untuk sementara, dibatasi maksimal tiga orang untuk setiap KDO.

Syarat:

· Mahasiswa semester lima ke atas (setelah diseleksi oleh perguruan tinggi dan ditetapkan berdasarkan kuota).

· Beasiswa diajukan oleh rektor, atau pimpinan pemerintah daerah setempat, atau pejabat yang berwenang di tempat pemohon bekerja.

Beasiswa diberikan selama dua semester yang dapat diperpanjang lagi asal memenuhi persyaratan. Beawiyata lebih difokuskan pada bantuan penelitian.

Untuk informasi selanjutnya, silakan hubungi:

Konsorsium Pertamina-KPS di Bidang Pendidikan

Direktorat Manajemen Production Sharing (DMPS)

Gedung Patrajasa Lantai 14-16 Wing 3,

Alamat: Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav.32-34, Jakarta Selatan.

Telepon: (021) 52900245-48, pesawat: 5243; 3815243, 3816598.

Faks.: (021) 3854920, 3523715.

BEASISWA SIAP (Singapore Airlines Untuk Pendidikan)

Sejarah hubungan Singapore Airlines (SIA)–salah satu perusahaan penerbangan terbaik di dunia–dengan Indonesia sudah dirintis sejak November 1947. Ketika itu pesawat DC-3 SIA (yang kini lebih akrab dengan sebutan SQ) sudah menerbangi Jakarta, Palembang, dan Medan. Sejak tahun ajaran 2000/2001 SIA mempererat hubungan di bidang pendidikan dengan memberikan beasiswa bagi putra-putri keluarga sederhana di Indonesia.

Pemberian beasiswa ini bermula dari pemikiran bahwa krisis ekonomi yang melanda Indonesia menyebabkan kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi menjadi sangat berkurang. Oleh karena itu, sektor pendidikan harus dibantu. Maskapai SIA memutuskan untuk memberi bantuan berupa program Beasiswa SIAP (Singapore Airlines untuk Pendidikan) yang ditujukan bagi siswa Indonesia yang cerdas tapi kekurangan, baik di tingkat sekolah dasar, menengah, maupun universitas. Untuk tujuh tahun ke depan, alokasi dana Beasiswa SIAP mencapai Rp 10 miliar.

Beasiswa untuk jenjang sekolah dasar hingga lanjutan atas sementara ini baru berlaku di wilayah Jakarta. Pada tahun ajaran 2000/2001 hingga 2001/2002 beasiswa diberikan kepada 750 siswa. Dana yang dialokasikan lebih dari Rp 1,5 miliar. Sementara untuk jenjang S1 pada tahun akademik 2000/2001 diberikan kepada 61 mahasiswa Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor. Pada 2002/2003 giliran mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Kota-kota lain yang akan mendapat kesempatan adalah Medan, Manado, Makassar, dan Lombok.

Syarat penerima beasiswa SIAP jenjang perguruan tinggi:

1. Warga Negara Indonesia.

2. Berasal dari keluarga sederhana.

3. Selama kuliah nilai akademik di atas rata-rata.

4. Berjiwa kepemimpinan.

5. Sudah diterima oleh atau sedang kuliah di perguruan tinggi yang termasuk dalam daftar kelompok penerima beasiswa.

6. Mendapat dukungan salah satu komite beasiswa perguruan tingginya.

Dokumen yang dilampirkan:

1. Formulir Permohonan.

2. Rekomendasi dekan atau wali yang ditunjuk (rekomendasi singkat alasan menominasikan pelamar).

3. Tulisan/esei pribadi pemohon, panjangnya tidak lebih dari 1.000 kata, tentang latar belakang diri, minat, rencana kerja sesudah menyelesaikan studi jenjang S1, dan aspirasi karir di masa depan.

4. Rekomendasi dari mantan guru dan tokoh masyarakat setempat.

5. Lembar data finansial pemohon yang disahkan oleh Pejabat Bantuan Keuangan mahasiswa.

6. Seleksi awal oleh IM&A. Seleksi akhir dilaksanakan tim SIAP dan perguruan tinggi.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Tim SIAP, Inke Maris & Associates,

Alamat: Jalan Lapangan Ros 28, Jakarta 12840,

Telepon: (021)828 1250 (hunting),

Website :

E-mail : .

Kontak person: Rizal Maris; Nn. Pricillia Pantow.

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI, DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL



Ada beberapa program pemberian beasiswa yang ditangani oleh direktorat ini. Di masing-masing perguruan tinggi program ini biasanya diserahkan kepada Pembantu Rektor IV atau pejabat yang menangani Bidang Kerjasama dan Hubungan Luar Negeri di Departemen Pendidikan Nasional. Beberapa progam beasiswa yang ditawarkan itu antara lain:

1. Beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA)

Program ini dimulai sejak 1994 untuk membantu mahasiswa yang kurang mampu tetapi berkemampuan akademik (indeks prestasi) tinggi. Bantuan diberikan kepada sekitar 45 ribu mahasiswa, sebesar Rp 720 ribu per orang setiap tahun.

2. Beasiswa Kerja Mahasiswa (BKM)

BKM merupakan bantuan pemerintah bagi mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu. Disebut "kurang mampu" bila pendapatan keluarga calon penerima kurang dari Rp 250 ribu per bulan. Calon penerima beasiswa dipilih oleh masing-masing perguruan tinggi dan diwajibkan mengabdi bagi kepentingan perguruan tinggi terkait. Jenis pekerjaan dan jumlah jam kerja per minggu disesuaikan dengan kegiatan mahasiswa, antara lain dapat ditugaskan sebagai tenaga perpustakaan, laboratorium, asisten dosen. Program ini dimulai sejak tahun anggaran 1998/1999 untuk sekitar 150 ribu mahasiswa PTN dan PTS. Jumlah bantuan Rp 720 ribu per orang per tahun.

3. Kredit Mahasiswa

Ini merupakan sejenis pinjaman bagi mahasiswa yang akan segera menyelesaikan tugas akhir studinya. Kredit harus dikembalikan, tanpa bunga, setelah yang bersangkutan bekerja. Calon penerima dipilih oleh perguruan tinggi, dan perguruan tinggi ikut bertanggung jawab atas pengembalian pinjaman. Bantuan diberikan kepada 25 ribu mahasiswa PTN dan PTS sebesar Rp 350 ribu per orang setiap tahun.

4. Beasiswa bagi Program Pascasarjana

Program beasiswa ini bertujuan membantu dosen PTN dan PTS yang ingin meningkatkan kualifikasinya melalui pendidikan pascasarjana. Dana yang dialokasikan meliputi dana pendidikan dan biaya hidup. Jumlahnya Rp 10 juta per orang per tahun.

5. Beasiswa Pendidikan ke Luar Negeri

Beasiswa ini ditujukan bagi dosen PTN dan PTS yang mendapat tugas belajar ke luar negeri. Besarnya dana antara US$ 20.000 sampai US$ 25.000 per orang setiap tahun. Beasiswa meliputi biaya hidup dan biaya pendidikan yang berasal dari pemerintah RI (melalui dana pinjaman) dan hibah pemerintah negara sahabat. Juga dari yayasan-yayasan luar negeri, seperti dari Amerika Serikat, Australia, Austria, Inggris, Jepang, Jerman, Kanada, dan Selandia Baru.

Untuk informasi selanjutnya, silakan menghubungi :

Direktorat Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional,

Alamat: Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I, Senayan, Jakarta Pusat.

Website:

DOMPET DHUAFA REPUBLIKA

Keberadaan lembaga nirlaba ini tak lepas dari lahirnya Harian Umum Republika pada awal 1993. Ketika itu, wartawannya menyisihkan zakat 2,5 persen dari gaji untuk disumbangkan kepada yang memerlukan pertolongan (dhuafa). Ternyata banyak masyarakat yang ikut menyumbang, antara lain dengan menyalurkan zakat, infaq, shadaqah, waqaf maupun dana lainnya (ZIS) lewat media tersebut. Kemudian empat wartawan Republika membentuk yayasan Dompet Dhuafa Republika (DD Republika) pada 14 September 1994 sebagai wadah program sosial ini. Cakupan sasaran program lalu diperluas termasuk korban bencana alam dan korban konflik. Sejak 2001 DD Republika menangani bidang pendidikan dengan memberikan beasiswa terutama kepada mereka yang kurang mampu namun berprestasi.

Sasaran dan Jenis Beasiswa (Beastudi):

A. Masyarakat dengan potensi akademik sekolah umum

1. Beastudi Prestasi SLTA: Siswa berprestasi, namun kekurangan dari segi keuangan. Untuk wilayah Jakarta,. Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabotabek), dana yang disediakan Rp 75.000 per bulan per orang.

2. Beastudi Anugerah: Anugerah bagi siswa tidak mampu dari segi keuangan, namun lulus seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri lewat Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) dan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Beasiswa diberikan mahasiswa pada 29 perguruan tinggi negeri yang tersebar di 18 kota: Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Purwokerto, Surabaya, Malang, Jember, Makassar, Medan, Padang, Palembang, Bandarlampung, Pontianak, Denpasar, Mataram. Jumlah tunjangan menurut perhitungan perguruan tinggi masing-masing.

3. Beastudi ETOS: Mahasiswa berprestasi namun kekurangan dari segi keuangan. Beastudi diberikan pada mahasiswa 42 perguruan tinggi negeri di 18 kota. Besar tunjangan Rp 250 ribu per mahasiswa setiap bulan (untuk biaya kuliah dan fasilitas). Para penerima beastudi diwajibkan membuat laporan bulanan tentang pengeluaran dana tunjangan kepada DD Republika. Pembinaan dalam bentuk pertemuan rutin antara penerima beasiswa dan pembina wilayah berlangsung sedikitnya dua kali dalam satu bulan. Sementara evaluasi dilakukan sekali dalam satu tahun.

4. Beastudi Best of Best: Mahasiswa terunggul dari Beastudi ETOS dan memiliki jiwa kepemimpinan. Untuk sementara, beastudi ini baru diberikan pada 24 mahasiswa Institut Pertanian Bogor dan Universitas Indonesia. Besarnya dana Rp 400 ribu per mahasiswa per bulan.

5. Beaguru (mulai 2002): upaya perbaikan kualitas guru dari sisi keilmuan, metode pengajaran, dan kesejahteraannya. Program ini berupa pelatihan yang mencakup para guru terpilih di wilayah nasional. Pelatihan direncanakan minimal 24 kali dengan dana yang tersedia Rp 10 juta sekali pelatihan.

B. Masyarakat dengan potensi akademik sektor keterampilan

Sekolah Keterampilan Aplikatif: jenis keterampilan menengah dengan daya serap pasar tinggi.

Dua pola yang sedang dikembangkan:

· Kerja sama dengan sekolah kejuruan.

· Kerja sama dengan Balai Latihan Keterampilan yang punya fasilitas lengkap. Saat ini baru terpilih BLK Tangerang.

C. Program peningkatan kualitas generasi muda /remaja

Peduli Sosial Remaja: Cikal bakal kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah dengan inti kegiatan sosial.



Persyaratan:

· Syarat Umum

1. Mengajukan surat permohonan beastudi.

2. Berasal dari keluarga tak mampu (dilampiri surat keterangan dari RT, RW, dan Kelurahan).

3. Surat keterangan penghasilan orang tua (bila bekerja pada instansi pemerintah/perusahaan – atau surat pernyataan penghasilan orang tua, bila bekerja sebagai petani, pedagang, antara lain).

4. Surat keterangan dari sekolah/fakultas yang menyatakan mahasiswa tersebut tidak menerima beasiswa dari lembaga lain.

5. Fotokopi Kartu Keluarga.

6. Fotokopi nilai rapor/Kartu Hasil Studi.

7. Pasfoto 2 lembar ukuran 3 x 4 cm.

· Syarat Khusus Beastudi Prestasi SLTA

1. Bersekolah di SLTA Negeri.

2. Nilai Rapor rata-rata: 7 (tujuh).

3. Termasuk peringkat 10 besar di kelas.

4. Lulus seleksi yang diadakan Dompet Dhuafa.

· Syarat Khusus Beastudi Anugerah.

1. Diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK)/Program Pemerataan Kesempatan Belajar (PPKB) maupun jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).

2. Fotokopi ijazah SLTA dan Nilai Ebtanas Murni (NEM).

3. Lulus seleksi yang diadakan Dompet Dhuafa.

· Syarat Khusus Beastudi ETOS

1. Kuliah di perguruan tinggi negeri, maksimal semester 6 pada saat mengajukan beastudi.

2. Memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75.

3. Lulus seleksi yang diadakan oleh Dompet Dhuafa.

Informasi selanjutnya, silakan menghubungi:

Dompet Dhuafa Republika,

Alamat: Jl. Ir. H. Juanda 50,

Ciputat Indah Permai C 28-29, Ciputat 15419, Jakarta Selatan,

Telepon: (021) 7416050 (hunting),

Faks.: (021) 7416070, PO Box 1996 Jakarta 12000,

E-mail:

Website:



Gerai Gedung Republika,

Alamat: Jl. Warung Buncit Raya 38, Jakarta Selatan,

Telepon: (021) 7803747, Pesawat: 138,

Faks.: (021) 7800649.

BEASISWA MONBUKAGAKUSHO

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang (Monbukagakusho) setiap tahun menawarkan 6 program beasiswa kepada mereka yang ingin belajar di Jepang. Beasiswa ini diberikan penuh dan tanpa ikatan apa pun, mencakup: tiket kelas ekonomi p.p., bebas biaya ujian masuk, biaya kuliah dan matrikulasi, tunjangan kedatangan sebesar 25.000 yen diberikan pada saat tiba di Jepang. Setiap penerima beasiswa akan diikutsertakan dalam asuransi kesehatan nasional Jepang dan program subsidi biaya kesehatan dari Association of International Education Japan (AIEJ), serta kursus bahasa Jepang, dan disediakan asrama.

Pendidikan tinggi di Jepang meliputi:
Universitas:

1. Undergraduate (S1): lama studi 4 (empat) tahun, kecuali Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Kedokteran Hewan 6 (enam) tahun.

2. Graduate School (Pascasarjana): Program master (S2) dan doktor (S3).

· Master's course: lama studi 2 (dua) tahun.

· Doctor's course: lama studi 3 (tiga) tahun, kecuali Kedokteran 4 (empat) tahun.

College of Technology (D3):

Program ini khusus pendidikan calon ahli teknik (engineer). Kurikulum dititikberatkan pada praktik dan percobaan. Waktu studi 3 (tiga) tahun. Bagi yang lulus dengan prestasi bagus dapat melanjutkan ke jenjang S1.

Bidang-bidang yang ditawarkan antara lain :
1. Material Science and Engineering: Material Engineering, Chemical Engineering and Industrial Chemistry, Bio-science, Bio-engineering and Environmental Engineering.

2. Mechanical Engineering: Industrial Materials and Material Processing, Machine Elements and Machine Design, Power Machine and Industrial Machinery, Computer Aided Design (CAD) / Computer Aided Machining (slowcooker)

3. Electronic Control Engineering (Sensor, Actuator, Microprocessor, System Control, Robotics)

4. Electrical and Electronic Engineering: Electrical Engineering, Electronic Engineering, Telecommunication and microwave

5. Computer Science and Information Engineering: Computer software, Signal/Image Processing, Computer Network, Operating System, Peripherals and Interface Technology

6. Architecture and Civil Engineering: Architecture, Civil Engineering

7. Mercantile Marine: Nautical Science, Marine Engineering

Professional Training College (D2):

Program pendidikan ini untuk calon profesional. Lama studi 2 (dua) tahun.

Bidang-bidang yang ditawarkan: Architecture, Civil Engineering, Electrical Engineering, Electronics, Telecommunication, Nutrition, Infant Education, Secretarial Studies, Hotel Management, Tourism, Fashion/Dress Making, Design, Photography, Others. (Apabila memilih bidang selain yang tersebut di atas, pelamar harus menuliskan alasan memilih bidang tersebut di dalam formulir.)


Program-program beasiswa yang ditawarkan:

1. a Research Student (Pascasarjana)

· Program Government to Government (G to G), untuk Pegawai Negeri Sipil.

· Program University to University (U to U), untuk umum

*)Tunjangan bulanan sebesar 185.500 yen.

Syarat: Usia di bawah 35 tahun pada saat keberangkatan, untuk G to G (antarpemerintah), harus Pegawai Negeri Sipil (memiliki NIP), Lulus S1 untuk program S2 dan lulus S2 untuk program S3.

Materi Ujian: tanya jawab proposal penelitian dan lainnya

1.b Research Student (G to G)

Pemohon beasiswa dapat mengirim lamaran pada setiap awal Desember dan ditutup akhir Mei tahun berikutnya.

Syarat calon dari perguruan tinggi:

1. Pelamar harus dicalonkan oleh perguruan tinggi yang ditandai dengan surat pengantar dari Rektor/Purek.

2. Untuk tahap awal, application form (berkas lamaran) diserahkan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Indonesia, tembusan dikirimkan ke Kedutaan Besar Jepang.

3. Seorang pelamar harus menghubungi seorang profesor dari universitas negeri di Jepang guna mendapatkan Letter of Acceptance (L/A)—surat persetujuan penerimaan.

Syarat calon dari Departemen/Lembaga Nondepartemen:

1. Ada surat pengantar dari pejabat instansi yang bersangkutan.

2. Application form diserahkan kepada Sekretariat Negara Republik Indonesia disertai surat pengantar dari instansi yang bersangkutan.

3. Setelah disahkan oleh Sekretariat Negara, berkas lamaran diserahkan kepada Kedubes Jepang.

4. Pelamar harus menghubungi seorang profesor dari universitas negeri di Jepang guna mendapatkan Letter of Acceptance (L/A) atau surat persetujuan penerimaan.

5. Pelamar harus menyerahkan tiga buah dokumen asli dalam bahasa Inggris atau Jepang: ijazah, transkrip nilai, dan Letter of Acceptance (L/A) langsung kepada bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang.

Pelamar yang lolos pra-seleksi akan dipanggil untuk wawancara dengan Tim Seleksi Monbukagakusho pada pertengahan Juli (untuk calon dari perguruan tinggi) dan akhir Agustus (untuk calon dari departemen dan non-departemen). Wawancara dalam bahasa Inggris.

Setiap tahun sekitar 50 orang dari Indonesia diterima melalui jalur G to G ini. Sebelum resmi diterima sebagai mahasiswa pascasarjana, pelamar terdaftar sebagai mahasiswa non-gelar (research student). Untuk diterima sebagai mahasiswa pascasarjana, pelamar harus mengikuti lulus tes masuk. Jika gagal, tetap sebagai research student hingga masa beasiswanya selesai.

1.c Research Student (U to U)

Program U to U adalah program pertukaran mahasiswa antaruniversitas. Untuk itu kandidat harus terlebih dahulu menanyakan apakah universitas/almamaternya terikat kerja sama dengan salah satu universitas di Jepang atau tidak. Dalam soal ini, pihak Kedutaan Besar Jepang (dan Konsulat Jenderal) tidak menangani proses pelamaran jalur U to U itu. Formulir aplikasi dan pengajuan lamaran langsung dikirimkan ke universitas penerima di Jepang, setelah yang berminat melaporkannya ke bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.

2. Undergraduate (Program S1)

Lulusan IPA maupun IPS dapat mengikuti program yang terbuka untuk semua bidang studi ini. Lama belajar lima tahun (kecuali untuk Kedokteran Umum, Gigi, dan Hewan yang tujuh tahun), termasuk satu tahun belajar bahasa Jepang. Tunjangan bulanan sebesar 142.500 yen.

Syarat: Usia belum 22 tahun pada saat keberangkatan, lulus SLTA dengan rata-rata NEM, STTB, dan Rapor Cawu III min 7,7.

Materi Ujian: Soal ujian dalam Bahasa Inggris, kecuali Tes Bahasa Jepang

· Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora: Bahasa Inggris, Matematika, Sejarah Dunia.

· Bidang Ilmu Pengetahuan Alam: Bahasa Inggris, Matematika, Kimia dan Fisika/ Biologi (Sesuai dengan pilihan bidang studi).

Pelamaran dibuka setiap tahun pada pertengahan tahun selama 1 (satu) bulan atau sampai formulir habis. Bagi pelamar yang memenuhi syarat dapat mengambil formulir di Bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang atau Konsulat Jenderal Jepang terdekat (Medan, Surabaya, Makassar). Bagi yang lulus pra-seleksi akan dipanggil untuk mengikuti ujian tertulis (pada akhir bulan Juli). Yang lulus ujian tertulis akan dipanggil untuk mengikuti wawancara. Keputusan akhir lulus-tidaknya calon ditetapkan oleh Monbukagakusho pada akhir Januari tahun berikutnya. Bila prosedur telah lengkap diikuti, dan lulus, penerima beasiswa berangkat ke Jepang pada April.

3. College of Technology (Program D3/ Politeknik)

Program ini khusus bagi lulusan SMU-IPA. Lama belajar empat tahun, termasuk satu tahun belajar bahasa Jepang. Lulusan D3 yang berprestasi dapat melanjutkan ke jenjang S1. Tunjangan bulanan sebesar 142.500 yen.

Syarat: Usia belum 22 tahun pada saat berangkat, lulus SMU dengan rata-rata NEM, STTB, dan rata-rata rapor catur wulan III minimal 7,5.

Materi Ujian: Matematika dan Fisika/Kimia. Seluruh soal ujian tertulis dalam bahasa Inggris, kecuali tes bahasa Jepang.

Pelamaran: Sama dengan Undergraduate (Program S1).

4. Professional TrainingCollege (Program D2)

Program ini dapat diikuti lulusan IPA maupun IPS. Program ini setara dengan akademi. Lama belajar tiga tahun, termasuk setahun belajar bahasa Jepang. Tunjangan bulanan 142.500 yen.

Syarat: Usia belum 22 tahun pada saat berangkat, lulus SLTA dengan Rata-rata NEM, STTB dan Rapor Cawu III min 7,0.

Materi Ujian: Bahasa Inggris dan Matematika. Seluruh soal ujian tertulis dalam bahasa Inggris, kecuali tes bahasa Jepang.

Pelamaran: Sama dengan Undergraduate (Program S1).

5. Teacher Training (Program Penataran Guru, non-gelar)

Program ini ditawarkan kepada guru yang mengajar di SD, SLTP, SLTA, baik dari sekolah negeri maupun swasta dan kepada dosen dari universitas yang dahulu disebut IKIP. Mereka harus sudah S-1 dan telah memiliki pengalaman mengajar minimal lima tahun. Lama belajar 1 tahun 6 bulan, termasuk belajar bahasa Jepang selama 6 bulan. Tunjangan bulanan sebesar 185.500 yen.

Syarat: Usia belum 35 tahun pada saat berangkat, telah mengajar minimal 5 tahun, bergelar S-1.

Materi Ujian: Bahasa Inggris (dan bahasa Jepang bagi pengajar bahasa Jepang).

Pelamaran untuk program ini dibuka awal Oktober dan ditutup akhir Desember. Pelamaran langsung ke Kedutaan Besar atau Konsulat Jenderal Jepang terdekat. Khusus untuk pegawai negeri, calon peserta harus melapor (dengan mengirim fotokopi formulir) ke Biro Kerja Sama Luar Negeri/ BKLN Departemen Pendidikan Nasional.

Pelamar yang lulus pra-seleksi akan dipanggil untuk ujian tertulis, dan jika lulus akan diteruskan pada tahap selanjutnya: wawancara. Hasil akhir akan diputuskan oleh Monbukagakusho pada Agustus. Soal penempatan di universitas akan diputuskan oleh Monbukagakusho setelah berkonsultasi dengan universitas yang bersangkutan. Penerima beasiswa tidak dapat mengajukan keberatan atas keputusan penempatan ini. Penerima beasiswa berangkat ke Jepang pada Oktober.

6. Japanese Studies (untuk para mahasiswa jurusan Jepang)

Program ini ditawarkan kepada para mahasiswa yang sedang kuliah di jurusan Jepang selama minimal enam semester. Lama belajar satu tahun. Tunjangan bulanan sebesar 142.500 yen.

Syarat:

· Usia belum 30 tahun pada saat berangkat.

· Diperuntukkan mahasiswa/i minimal tingkat III jurusan Jepang.

· Pelamar harus mendapat rekomendasi universitasnya.

· Pelamar yang lulus pra-seleksi akan dipanggil untuk mengikuti ujian tertulis yang akan diadakan di Jakarta, Medan, Makassar dan Surabaya.

· Bagi yang lolos ujian tersebut akan dipanggil untuk mengikuti ujian wawancara.

· Catatan: untuk rekomendasi dari universitas, pada tahap awal dapat diganti dengan surat rekomendasi dari Ketua Jurusan atau Pembantu Dekan.

Materi Ujian: Bahasa Jepang.

Untuk informasi selanjutnya, silakan hubungi:

Bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang

Menara Thamrin Lt. 7,

Alamat: Jl. M.H. Thamrin Kav. 3, Jakarta 10340.

Telepon: (021) 324308, 325012.

Faks.: (021) 324820.

Website:

Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya

Alamat: Jl. Darmo Permai II/17, Surabaya.

Telepon: (031) 7314047, 7347961.

Konsulat Jenderal Jepang di Medan

Wisma BII Lt. 5,

Alamat: Jl. P. Diponegoro 18, Medan.

Telepon: (061) 4575193.

Konsulat Jenderal Jepang di Makassar

Alamat: Jl. Jenderal Sudirman 31, Makassar 90133.

Telepon: (0411) 871030, 872323.

PUBLIC INTEREST RESEARCH AND ADVOCACY CENTER (PIRAC)



PIRAC adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nirlaba dan independen. Berdiri pada 1990, PIRAC bergerak di bidang riset dan advokasi. Pada Januari 2001 PIRAC mulai mengadakan program beasiswa untuk mahasiswa dari PTN maupun PTS seluruh Indonesia yang berbakat di bidang penulisan (program S1).

Syarat:

· Telah menyelesaikan kuliah selama empat semester dan belum menerima beasiswa lain.

· Calon juga harus aktivis pers kampus, atau penekun bidang penulisan, dibuktikan dengan melampirkan contoh tulisan yang pernah dimuat di media massa umum/kampus.

· Calon penerima harus benar-benar kesulitan biaya kuliah, yang direkomendasi oleh koordinator kemahasiswaan masing-masing jurusan.

Beasiswa diberikan untuk satu semester. Perpanjangannya dapat dilakukan jika memenuhi persyaratan: termuatnya tulisan yang bersangkutan di media massa minimal tiga kali selama enam bulan. Pendaftaran dibuka biasanya pada Juni.

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi:

Panitia Beasiswa PIRAC

Alamat: Jl. Mampang Prapatan XI / 39,

RT 005/RW 004, Kel. Tegal Parang, Jakarta 12790.

Telepon/Faks.: (021) 79190752.

E-mail:

Website:

SAMPOERNA FOUNDATION

Yayasan pendidikan nirlaba ini didirikan pada Maret 2001 oleh para pengusaha sukses yang dimotori Putera Sampoerna (PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk.). Tujuannya membantu dan menyediakan beasiswa untuk berbagai tingkatan studi, dari siswa hingga pascasarjana. Dalam soal pengumpulan dana, sumbangan mengalir ke Sampoerna Foundation (SF) dari PT Hanjaya Mandala Sampoerna, keluarga besar Sampoerna, donatur pribadi, hingga perusahaan swasta yang tergerak hatinya untuk ikut memberikan sumbangan konstruktif kepada negara.

‘’Indonesia adalah negara yang penuh potensi,’’ kata Putera Sampoerna, bos perusahaan rokok. Ia melihat bahwa pendidikan adalah salah satu kunci bagi lahirnya pemimpin bangsa maupun pengusaha yang berguna untuk membangun negara yang kuat dan bersaing dalam perekonomian global. ‘’Belajar adalah proses mengetahui dan menjadi berarti,’’ tandasnya. Untuk mencetak pengusaha yang andal, SF juga memberikan dukungan penuh bagi mereka yang ingin belajar bidang ekonomi di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri.

Dalam jajaran Dewan Penasihat SF, tercatat tokoh-tokoh masyarakat seperti Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Arief Tarunakarya Surowidjojo, SH, LLM, dan John A. Prasetio, S.E.

Program Beasiswa yang ditawarkan:

1. Program Beasiswa Sekolah Menengah Umum

Program ini ditujukan bagi siswa dari kalangan kurang mampu yang ingin melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Umum. Untuk membantu mereka, Sampoerna Foundation bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum beserta SMU Negeri di seluruh Indonesia. Dana yang disediakan cukup bagi 3.000 siswa setiap tahun, hingga lima tahun ke depan. SF bekerjasama dengan PT Pos Indonesia untuk layanan transfer. Sementara itu, permohonan beasiswa ditutup pada 15 Oktober setiap tahun, untuk masa pendanaan studi yang dimulai November.

2. Program Beasiswa Sarjana (S1)

SF bekerja sama dengan RKS Management (Jakarta) dan perwakilan Universitas Indonesia (Jakarta/Depok), Universitas Padjadjaran (Bandung), Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta), dan Universitas Airlangga (Surabaya). Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan: kondisi ekonomi, prestasi akademik, tes psikologi, potensi kepemimpinan dan wawancara. Pada program SF menyediakan dana untuk 30 peserta.

3. Program Pascasarjana di Dalam Negeri

Seleksi kurang-lebih sama dengan pemohon beasiswa S1. Namun syarat terpentingnya adalah kandidat memenuhi standar dan belajar program pascasarjana di universitas dalam negeri. Seperti pada program S1, untuk program pascasarjana ini SF sudah mencanangkan dana untuk 30 kandidat per tahun.

4. Program Pascasarjana di Luar Negeri

Selain seleksi dari SF, pemohon beasiswa melampirkan keterangan sudah diterima di universitas di luar negeri yang dituju. Permohonan beasiswa ini dibuka dan ditutup pada setiap akhir Agustus tahun sebelum tahun akademik berikutnya dimulai. Calon penerima beasiswa yang lulus seleksi akan diumumkan paling lambat 30 September – artinya calon penerima beasiswa mempunyai cukup waktu mengirim berkas permohonan studi mereka ke universitas-universitas di luar negeri. Setiap tahun SF menyediakan dua beasiswa untuk program ini.

Untuk informasi dan formulir pendaftaran bisa dimanfaatkan surat elektronik (e-mail), maupun mengklik website SF.

Sampoerna Foundation

Plaza Bapindo, Menara Bank Mandiri Lt. 18

Alamat: Jalan Jenderal Sudirman Kav. 54 – 55, Jakarta 12190.

E-mail:

Website:

UNILEVER INDONESIA

Program beasiswa Unilever Indonesia diberikan kepada mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri sejak pertengahan 1950. Mula-mula hanya untuk mahasiswa tingkat IV Fakultas Teknik UI di Bandung (yang kemudian menjadi ITB), di mana beberapa tenaga inti Unilever Indonesia memang bekas mahasiswa penerima beasiswa perusahaan ini. Ketua direksi berkebangsaan Indonesia pertama pada 1980, Ir Yamani Hasan, juga mantan penerima beasiswa tersebut. Sejak 1978 beasiswa Unilever Indonesia mulai diberikan kepada perguruan tinggi negeri lain.

Pengumuman tentang beasiswa Unilever disampaikan melalui Pembantu Rektor III (Bagian Akademik & Kemahasiswaan). Caranya, dengan memasang pengumuman di Rektorat/Dekanat. Seleksi awal dilakukan oleh pihak universitas, berdasarkan persyaratan dari Unilever. Beasiswa ini diberikan kepada para mahasiswa perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Sifat beasiswa Unilever diberikan tanpa ikatan. Namun, apabila setelah lulus mereka tertarik bergabung dengan Unilever Indonesia, mereka dapat diikutsertakan dalam proses seleksi untuk Management Trainee Unilever Indonesia.

Syarat:

1. Mahasiswa tingkat akhir program Sarjana (S1).

2. Berprestasi.

3. Berasal dari keluarga kurang mampu atau membutuhkan bantuan beasiswa.

4. Indeks prestasi kumulatif minimum 3.00.

5. Aktif dalam organisasi/kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung..

Beberapa fakultas yang dapat terkait dengan bidang-bidang cakupan Unilever adalah mahasiswa perguruan tinggi dari jurusan: Teknik Mesin, Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Fisika, Teknologi Pangan, Farmasi, Kimia Murni, Agribisnis, Psikologi, Ekonomi, Hukum, Statistik/Matematika.

Untuk informasi selanjutnya, Anda dapat menghubungi:

Bagian HRD

PT Unilever Indonesia Tbk

Graha Unilever,

Alamat: Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 15,

Jakarta 12930,

Telepon: (021) 5262112,

Faks.: (021) 5262044,

E-mail: .



YAYASAN SUPERSEMAR



Hampir semua perguruan tinggi di seluruh provinsi di Indonesia pernah menikmati beasiswa dari Yayasan Supersemar, karena yayasan ini mengucurkan dananya ke seluruh provinsi Indonesia, sejak berdiri hingga sekarang.

Termotivasi oleh Surat Pemerintah Sebelas Maret, Yayasan Supersemar didirikan dan sekaligus dipimpin oleh (Presiden RI ketika itu) Soeharto pada 16 Mei 1974. Misinya: ikut serta membantu pemerintah dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Setahun kemudian yayasan ini mulai memberikan beasiswa. Pada tahun-tahun awal Yayasan hanya memberi beasiswa kepada mahasiswa. Kini ada prioritas sasaran, seperti yang diumumkan lewat situsnya, beasiswa diberikan kepada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri dan mahasiswa di perguruan tinggi (perguruan tinggi negeri maupun swasta).

1. Beasiswa untuk siswa SMK Negeri

Syarat:

· Status siswa masih sekolah aktif.

· Nilai rata-rata rapor terbaru minimal 6,5.

· Berasal dari keluarga kurang/tidak mampu.

· Diusulkan oleh Kepala Sekolah.

· Beasiswa berlaku untuk satu tahun pelajaran dan dapat diperpanjang untuk tahun berikutnya jika masih diusulkan oleh kepala sekolahnya.

Prosedur permohonan beasiswa:

· Mengisi formulir yang disediakan Yayasan Supersemar di sekolahnya.

· Pasfoto ukuran 4x6 cm.

· Meterai secukupnya.

· Pengesahan dari Kepala Sekolah pada formulir tersebut.

· Secara kolektif formulir dikirim Kepala Sekolah kepada Ketua Yayasan Supersemar melalui Kepala Kantor Dinas Pendidikan Tingkat Provinsi.

Periode pemberian beasiswa program ini mulai Juli hingga Juni tahun berikutnya. Besarnya uang beasiswa Rp 30 ribu per bulan.

2. Beasiswa untuk mahasiswa perguruan tinggi

Syarat:

· Status mahasiswa masih aktif kuliah.

· Indeks prestasi semester terbaru minimal 2,5.

· Berasal dari keluarga kurang/tidak mampu.

· Diusulkan oleh Pimpinan Perguruan Tinggi.

· Beasiswa berlaku untuk satu tahun akademik, dan dapat diperpanjang untuk tahun berikutnya apabila masih diusulkan oleh rektor/pimpinan perguruannya.

Prosedur permohonan beasiswa:

· Mengisi formulir yang disediakan Yayasan Supersemar di perguruan tingginya.

· Pasfoto ukuran 4x6 cm.

· Meterai secukupnya.

· Pengesahan pimpinan perguruan tinggi pada formulir tersebut.

· Secara kolektif formulir dikirimkan oleh piminan perguruan tinggi atau Koordinator Kopertis (bagi mahasiswa PTS) kepada Ketua Yayasan Supersemar.

Periode pemberian beasiswa program ini terhitung mulai April sampai dengan Maret tahun berikutnya. Besarnya dana program mahasiswa ini Rp 70 ribu per bulan.

3. Bantuan Dana Pembinaan Atlet

Program ini ditujukan bagi atlet dan pelatih olahraga agar termotivasi meningkatkan prestasi, setidaknya mempertahankan prestasi yang telah dicapainya. Besarnya beasiswa Rp 70 ribu per bulan. Usulan pemberian beasiswa dilakukan oleh induk organisasi cabang olahraga yang bersangkutan dan dikoordinasi oleh KONI Pusat.

4. Bantuan Partisipasi Biaya Penelitian

Program ini khusus bagi dosen tetap di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama yang sedang mengikuti pendidikan jenjang pascasarjana di dalam negeri. Bantuan yang diberikan untuk keperluan penelitian penyelesaian tesis S2 sebesar Rp 800 ribu dan untuk disertasi S3 sebesar Rp 1,5 juta.

Pemohon beasiswa diusulkan oleh direktur program pascasarjana dan mendapat rekomendasi pihak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, atau Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama.

5. Bantuan untuk anak asuh

Progam ini ditujukan bagi siswa-siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP/SMP) guna menyukseskan wajib belajar 9 tahun. Dana yang dialokasikan untuk 50 ribu anak asuh tingkat SD, masing-masing sebesar Rp 60 ribu per tahun. Sedangkan untuk 10 ribu anak asuh jenjang SLTP masing-masing sebesar Rp 90 ribu per tahun. Pemberian bantuan program ini ditangani oleh Yayasan Lembaga Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (YL GNOTA).

6. Bantuan untuk anak pengungsi

Program ini khusus ditujukan untuk meringankan beban anak-anak para pengungi akibat bencana/musibah/konflik di daerah-daerah tertentu. Tunjangan yang diberikan terutama untuk pendidikan.



Menurut catatan yayasan, sebagaimana disebutkan dalam situs Yayasan Supersemar, pada tahun ajaran 2002/2003, pemberian beasiswa diberikan untuk 47.610 siswa SMK dan 28.940 mahasiswa. Beasiswa khusus telah diterimakan kepada 1.000 olahragawan melalui Bantuan Peningkatan Prestasi yang diberikan kepada 400 atlet, 100 pelatih, dan 500 pembibitan Garuda Emas (periode November 2002-Oktober 2003, masing-masing sebesar Rp 70 ribu; Rumah Sejahtera untuk Anak-anak Pengungsi (RSAP) di Tobelo dan Ternate (Maluku) kepada 200 siswa SD dan 80 siswa SLTP; dan 60 ribu anak asuh, terdiri dari 50 ribu siswa SD sebesar Rp 60 ribu per tahun dan 10 ribu siswa SLTP sebesar Rp 90 ribu per tahun.

Untuk informasi selanjutnya, silakan Anda menghubungi:

Yayasan Supersemar

Gedung Granadi Lantai 4,

Alamat: Jl. HR Rasuna Said Kav. 8-9, Kuningan, Jakarta 12950.

Telepon: (021) 2522745 Pesawat: 1081; 1082.

Faks.: (021) 2521808.

Website:
YAYASAN TIFICO

Sejak 1979 PT Teijin Indonesia Fiber Corporation (Tifico) memberikan beasiswa kepada siswa-siswa tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Misalnya untuk mahasiswa Universitas Indonesia (Jakarta) dan Universitas Padjadjaran (Bandung). Agar penyaluran beasiswa pendidikan ini mendapatkan wadah yang pas, pihak Tifico mendirikan Yayasan Tifico tepat pada hari ulangtahun ke 15 produsen sintetis poliester terbesar di Indonesia ini pada 9 Juli 1991. Para pendiri yayasan antara lain: Sosku Yasui (Presdir Tifico), Prof. Dr. Sujudi (mantan rektor UI yang pernah menjabat menteri kesehatan), Prof. Mahar Mardjono Reksodiputro, SH, M.A (dosen UI). Prof. Mahar ditunjuk sebagai Ketua Yayasan.

Ada beberapa persyaratan untuk memperoleh beasiswa tersebut. Mereka harus dari keluarga tidak mampu, calon penerima ingin tetap melanjutkan sekolah, selain memiliki prestasi yang bagus. Di samping itu, permohonan diajukan oleh pihak sekolah/perguruan tinggi secara kolektif. Saat ini Yayasan Tifico telah menunjuk mahasiswa di 17 perguruan tinggi yang ada di pulau Jawa serta siswa SLTA yang ada di Jakarta, Bandung, dan Tangerang sebagai penerima beasiswa. Formulir untuk beasiswa tingkat SD-SLTA oleh oleh Yayasan Tifico ke Kantor Dinas P&K. Kemudian Kantor Dinas melaksanakan seleksi calon penerima beasiswa. Untuk tingkat mahasiswa, formulir dikirim oleh Yayasan Tifico melalui Universitas. Proses seleksi dilakukan oleh pihak universitas dengan melampirkan bukti-bukti yang ada.

Informasi selanjutnya, Anda dapat menghubungi:

Yayasan Tifico

Mid Plaza Lt. 14,

Alamat: Jalan Jenderal Sudirman Kav. 10–11, Jakarta 10220.

E-mail: .

Contact person: Eny Sarmiyati

YAYASAN TOYOTA & ASTRA



Yayasan Toyota & Astra (YTA) merupakan organisasi nirlaba yang ingin membantu pemerintah Indonesia di bidang pendidikan. Yayasan ini didirikan oleh PT Toyota Astra Motor dan PT Astra International, dua perusahaan otomotif ternama, pada 9 Oktober 1974.

Setiap tahun YTA memberi bantuan, termasuk beasiswa, kepada mahasiswa dan kalangan akademisi lainnya. Program beasiswa yang diluncurkan oleh YTA: Beasiswa Reguler S1, Beasiswa Politeknik, Dana Bantuan Penelitian Tesis bagi Program Pascasarjana, Dana Bantuan Kegiatan Ilmiah Mahasiswa, dan Beasiswa Program Pascasarjana.

1. Beasiswa Reguler S1

Untuk tahun akademik 2004/2005 YTA memberikan beasiswa kepada 850 mahasiswa S1 dari 50 perguruan tinggi terpilih di seluruh Indonesia. Besarnya bantuan setiap mahasiswa Rp 150 ribu per bulan. Keputusan penerima beasiswa diumumkan YTA melalui Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan. Kewajiban penerima beasiswa adalah melaporkan Indeks Prestasi (IP) setiap semester secara kolektif melalui Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan sebagai bahan evaluasi YTA.

Syarat:

· Mahasiswa-mahasiswi berkebangsaan Indonesia.

· Khusus mengambil bidang studi: Teknik (Jurusan Mesin, Elektro, Arsitek, Sipil, Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Lingkungan dan Teknologi Informatika), MIPA, Perikanan, Kehutanan.

· Tahun akademi 2004/2005 studi pada semester V atau VII.

· Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2.80.

· Berasal dari keluarga berpenghasilan rendah yang dibuktikan dengan surat keterangan dari kampus–dikeluarkan oleh Ketua Jurusan dan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, dan/atau Kelurahan.

· Belum bekerja tetap dan tidak sedang menerima beasiswa/ikatan dinas dari lembaga atau instansi lain.

· Permohonan diajukan secara kolektif melalui Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan masing-masing perguruan tinggi paling lambat 29 September 2004 (cap pos – untuk periode 2004/2005).

2. Beasiswa Politeknik

Pada tahun akademik 2004/2005 YTA memberikan beasiswa program ini kepada 132 mahasiswa dari Politeknik terpilih di seluruh Indonesia. Besarnya beasiswa per mahasiswa Rp 150 ribu per bulan. Keputusan penerima beasiswa akan diumumkan YTA melalui Pembantu Direktur Bidang Kemahasiswaan. Penerima beasiswa wajib melaporkan Indeks Prestasi (IP) setiap semester secara kolektif melalui Pembantu Direktur Bidang Kemahasiswaan sebagai bahan evaluasi YTA.

Syarat:

· Mahasiswa-mahasiswi berkebangsaan Indonesia.

· Menekuni jurusan Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Industri, Teknik Sipil, Teknik Komputer, Teknik Lingkungan, Teknik Kimia, Teknologi Informatika

· Tahun akademi 2004/2005 berada pada semester III atau V.

· Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2.60 (skala 4) atau 6.50 (skala 10).

· Berasal dari keluarga berpenghasilan rendah, dibuktikan dengan surat keterangan dari kampus dan/atau kelurahan.

· Belum bekerja tetap dan tidak sedang menerima beasiswa/ikatan dinas dari lembaga atau instansi lain.

· Permohonan diajukan secara kolektif melalui Pembantu Direktur Bidang Kemahasiswaan masing-masing perguruan tinggi paling lambat 29 September (cap pos – periode 2004/2005).

3. Dana Bantuan Penelitian Tesis bagi Program Pascasarjana

Program bantuan ini ditujukan bagi staf pengajar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dari seluruh Indonesia atau staf lembaga penelitian milik Pemerintah (LIPI/BPPT) yang akan atau sedang melakukan penelitian untuk keperluan tesis pada program pascasarjana di PTN Indonesia. Sifat dana yang diberikan YTA ini tidak mengikat.

Pemberian dana akan diberikan dalam dua periode. Periode pertama, jika pengajuan pada Januari–Mei, dana bantuan akan diberikan pada Juli. Periode kedua, bila pengajuan pada Juni–November, dana akan diberikan pada Desember. Jika penelitian sudah selesai, setiap penerima bantuan berkewajiban menyerahkan 1 (satu) copy laporan untuk dokumentasi YTA.

Syarat:

· Staf pengajar PTN atau staf lembaga penelitian milik pemerintah (LIPI/BPPT) yang sedang melanjutkan studi pascasarjana (S2 atau S3) di PTN di Indonesia.

· Indeks Prestasi minimum 3.50 bagi jenjang S2 maupun S3.

· Bidang studi penelitian dititikberatkan pada Bidang Teknik (diutamakan Teknologi Otomotif) dan pelestarian lingkungan hidup.

· Mengisi formulir asli dari YTA.

· Melampirkan rekomendasi rektor universitas asal.

· Rekomendasi direktur/dekan Pascasarjana dan promotor.

· Fotokopi proposal penelitian yang berisi antara lain jadual kegiatan, perincian dana, dan daftar pustaka.

· Tidak sedang menerima beasiswa dari lembaga/instansi lain.

4. Dana Bantuan Kegiatan Ilmiah Mahasiswa

Dana yang disediakan YTA khusus diberikan kepada mahasiswa melalui himpunan mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan ilmiah. Kegiatan itu dapat berupa seminar, simposium, kongres, maupun pameran yang berkaitan dengan bidang ilmu yang ditekuni. Setelah kegiatan selesai, penerima dana bantuan berkewajiban melaporkan kepada YTA dengan menyertakan 1 (satu) copy laporan sebagai dokumentasi YTA.

Syarat:

· Seminar atau kegiatan ilmiah.

· Dikelola oleh himpunan mahasiswa.

· Kegiatan tersebut mendapat persetujuan dekan dan pembantu rektor/pembantu direktur.

· Tidak bertujuan komersial.

5. Beasiswa Program Pascasarjana

Program beasiswa ini bersifat tidak mengikat. Bantuan diberikan YTA kepada staf pengajar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terutama yang berlokasi di luar Pulau Jawa. Dosen yang bersangkutan sedang melanjutkan studi di Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Universitas Airlangga.

Besarnya beasiswa bervariasi menurut kota tempat penerima beasiswa melanjutkan studi pascasarjananya (S2). Bagi mereka yang memenuhi persyaratan dan lolos seleksi akan diberitahu lewat surat yang dilampiri dengan berkas-berkas (formulir) yang harus diisi yang bersangkutan. Penerima beasiswa berkewajiban melaporkan hasil studinya setiap semester kepada YTA.

Syarat:

· Staf pengajar PTN yang ditugaskan mengambil studi program pascasarjana (jenjang S2) di UI, ITB, IPB, Unpad, UGM, Undip, atau Unair.

· Berusia tidak lebih dari 35 tahun.

· Tidak sedang mendapatkan beasiswa dari lembaga atau instansi lain.

· Bidang studi dititikberatkan pada bidang Ekonomi & Studi Pembangunan, Teknik, MIPA, Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan.

· Mengirimkan surat permohonan kepada YTA dengan melampirkan:

1. Daftar riwayat hidup.

2. Rekomendasi/surat penugasan dari rektor universitas asal.

3. Surat keterangan diterima di program S2 di salah satu perguruan tinggi tersebut di atas.

4. Menulis esei dalam bahasa Indonesia sepanjang maksimal 3.000 kata tentang motivasi mengambil program pascasarjana, dan rencana pemanfaatan ilmu yang diperoleh.

· Surat permohonan yang sudah dilengkapi dokumen lengkap diserahkan kepada YTA, paling lambat 30 September 2004 (periode 2004/2005). Beasiswa diberikan pada masa belajar setiap semester–sejauh yang bersangkutan mampu mempertahankan pencapaian IP minimal 3.00 namun jangka studi tidak lebih lama dari 2 (dua) tahun atau 4 (empat) semester.

Untuk informasi selanjutnya, silakan menghubungi:

Yayasan Toyota & Astra,

Alamat: Jl. Yos Sudarso, Sunter II, Jakarta 14330

Telepon: (021) 6515904

Faks. (021) 6515328

E-mail:

Website:

#13 [url]

Jul 16 07 9:36 PM

Sekedar nanya, Yayasan Supersemar itu bukannya yang kemaren muncul di berita terkait kasus Suharto ya?

16 tahun sudah berlalu
Semoga rasa bahagia ini akan tetap ada di hati
Jangan sampai ia tertutup oleh kabut nafsu
Masih banyak ilmu yang harus di kejar
Masih banyak cita yang begitu menggoda
Perjuangan tidak berhenti sampai di sini
Perjuangan terbesar adalah melawan diri sendiri
Hingga kita mati

#14 [url]

Jul 26 08 12:19 PM

thanks ya mang j-j! spmblover/XD.png
semoga aja beberapa taun ke depan selama saya jadi mahasiswa saya bisa meng-improve skill saya.
yeah! semangat!


MISYAVAD VA MIVATONIM!
Itu MUNGKIN dan BISA kita lakukan!


****Chemical Engineering 2008****

Remove this ad

Quick Reply

bbcode help